Pulang


Aku pulang ke rumah
Dimana Ibu tak lagi lihai memasak
Ayah tak lagi sanggup perbaiki loteng
Adik tak lagi suka mewarnai
Dan aku tak lagi suka main layang-layang

Aku pulang ke rumah
Yang tiap sudutnya melukiskan harapan
Meski suka sekali timbul tenggelam, seperti bercanda

Aku pulang.
Dimana kutepiskan rindu-rindu yang layu
Kulabuhkan pada palung tersemu
Mungkin nanti saling mencari, menunggu,
atau tak sengaja bertemu di satu titik lagi



Kemiling,
23.9.2016

#30haribersyukur






Berawal dari rutinitas malam menulis The Gratitude Journal yang akhir-akhir ini membosankan, akhirnya punya ide iseng untuk cari media lain. Yak! Instagram. Akhirnya, mulai ngajak korban berikutnya untuk berkomitmen menjalankan keisengan ini. Saya dan Firdha Azalia suka sekali diskusi perihal kurang bersyukurnya kita, jadi dewasa kok gini amat, hidup kok kaya gini-gini aja, mengeluh ini itu, sampai kita sering mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya bisa membuat kita menghargai hari-hari yang kita lewati. Akhirnya, perjalanan ke Nu Arte menghasilkan kesepakatan untuk menjalankan keisengan ini. Nah, mungkin teman-teman lain bisa juga ikutan "menempa diri" dengan cara ini. 

....
Caranya:
Selama 30 hari ke depan mulai hari ini,
Cukup post foto tentang apapun di Instagram yang bikin kamu bersyukur atas satu hal setiap harinya, bisa tentang makanan enak, film epic, orang yang menginspirasi, buku yang lagi dibaca, kegiatan yang bikin happy, belajar sudut pandang baru, musik yang lagi suka didengerin dll. Anything!!!
Upload fotonya lalu buat caption menarik kenapa kamu bersyukur atas foto itu, tag Saya @anastasyalb dan @fiiiiiiir lalu jangan lupa kasih hashtag #30haribersyukur
Let's start to being a grateful person, fellas!

Ruang Petak Tak Berisi

*
Halo, Bung?
Apa kabar surga? Terbuktikah lebih indah dari segala yang pernah Kau impikan?
Kau masuk surga kan, jangan bilang tidak!
...
Jangan pertanyakan soal keberanian, Bung
Yang dulu Kau takutkan, justru semakin mengerikan
Negri ini masih begini-begini saja
Makin banyak ahli agama, ahli hukum, ahli dosa, dan ahli-ahli lain yang membuatmu muak melihatnya.
Mereka teriak perihal kebenaran namun hanya untuk golongannya saja
Yang kecil makin kecil
Yang kaya makin kaya
Yang tertindas makin tertindas
Yang seenaknya makin tak tahu diri
...
Sore ini, Bung..
Keriuhan ini terasa sunyi, sepi sekali rasanya
Bagaimana bisa aku menyerah pada kemunafikan?
Tahun-tahun masih menungguku, demi meraih mimpi yang tak akan pernah bisa kubeli.
...
Apa rasanya, Bung?
Melakukan banyak hal demi orang lain, tapi sebelum mati kau cemas tak dianggap atas apa yang kau lakukan.
Kau melakukannya untuk siapa?
Dirimu saja, atau mereka?
...
Bercerita sore di makam terasa lebih riuh dibanding berteriak di tengah keramaian
Sunyi ini, sendiri ini, di ruang petak ini
Kiranya impianmu pun tak akan habis dimakan zaman
Surga masih akan selalu mengizinkanmu berandai-andai.
...
Selamat berangan-angan, Bung!

***




Museum Taman Prasasti, Jakarta
17.9.2016

Sajak-sajak Patahku

Banyak manusia yang jatuh cinta saat mereka bersenang-senang. Aku tidak. Aku jatuh cinta pada saat kedukaan lebih bersahabat dibandingkan kesukaan. Bukan, bukan berarti ini buruk. Kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padaku.

Banyak manusia yang jatuh cinta saat langit cerah dan sinar hangatnya memendar. Aku tidak. Bukan berarti ini buruk. Kamu adalah senja pembawa jingga terbaik yang pernah menghampiriku.

Banyak manusia yang suka sekali menyuarakan nestapa mereka. Aku tidak. Aku pandai menyimpannya dengan rapat di dalam sajak-sajak lirihku. Betapa lelah mereka terpenjara dalam hatiku yang sepi.  Hanya kamu, saksi yang mengubah kesunyian itu pecah menjadi kata-kata yang merdeka.

"Aku benci diriku, gak ada gunanya. Nangis mulu mikirin ini-itu, bodoh banget."

"Aku gak suka lihat laki-laki tamak, lebih mikirin kuantitas daripada kualitas. Kesetiaan jadi sesuatu yang disimpan, bukan dijaga."

"Aku tidak sabar mau hidup sendiri, memulai apa-apa semuanya sesuai dengan kehendakku. Aku mau bebas."

"Aku iri pada senja, dia bisa saja datang dan pergi tanpa tergantung pada siapapun. Apa yang dilakukannya menyenangkan setiap hati yang melihat jingganya. Jika tidak muncul pun karna langit mendung, dia tak pernah marah."

Padamu aku bisa mengatakan semuanya tanpa perlu takut kamu menghilang. Padamu aku bisa menceritakan hal terkecil dan terbodoh dalam hidupku tanpa perlu takut menerima tatapan aneh atau prasangka buruk. Hanya kamu yang bisa mendengarkannya dengan perasaan kagum, lalu tertawa dan berucap: "Kok bisa lah aku ketemu sama manusia kayak kamu di dunia ini. Dari sekian banyak, dari segala kemungkinan yang ada, aku ketemunya sama kamu". Lalu senyum sialan itu berhasil membuatku menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini.

Aku tidak pernah merasa malu bila harus menangis seperti anak kecil di hadapanmu. Tidak banyak kata yang kamu ucapkan saat aku menangis, kamu hanya diam menatap iba aku yang sedang dirundung kedukaan. Usapan tanganmu dan dekap tubuhmu selalu datang dengan begitu ringan. Kamu pun tidak pernah bertanya bila aku tidak sedang ingin bercerita. Kamu tahu saat waktunya tiba, aku akan bercerita dengan sendirinya.

"Ya ini hidup. Kelelahanmu itu dapat membuatmu jadi lebih baik lagi. Semangat, kamu masih punya banyak kesempatan dalam hidupmu untuk memikirkan hal yang lebih baik lagi." ujarmu sore itu, saat aku bilang bahwa ayahku mengingkari janjinya sendiri. Bila tanpamu, hari itu duniaku nyaris hilang.

Bagiku yang tidak pernah pandai menghadapi kesedihan, kehadiranmu selalu mampu menyelamatkan.

Berjalan bersamamu selalu membuatku merasa bahwa hidupku baik-baik saja. Melihat bagaimana kamu menertawakan kemalanganmu selalu membuatku merasa bahwa hidupku tidaklah terlalu buruk untuk dijalani. Seperti waktu itu, saat hari besar datang kamu justru bukan pulang ke rumah tapi mengiyakan tawaranku untuk merayakannya bersama perempuan yang kurang tahu harus mempersiapkan apa untuk memeriahkan hari itu. Bangun saja aku telat.

Akhirnya, hanya opor ayam asin yang santannya tak disaring dengan benar, serta beberapa sumbangan dari orang lain membuat kita bisa merayakan hari itu. Dan yang terpenting adalah, aku ada bersamamu.

"Enak ini!! Boleh, boleh" sambil tertawa kita memakannya, tahukah kamu? Sedih sekali hari itu melihatmu dengan lahap memakan masakan absurd itu. Aku hanya membayangkan apabila tidak ada aku yang menemukanmu pada malam itu, entah siapakah yang mampu menemanimu di saat seperti ini. Aku bersyukur bisa menjadi orang terpilih yang mengisi kesunyian dan kemalanganmu.

Aku yang saat itu merasa seakan tak memiliki apa-apa, lalu melihatmu tersenyum berterimakasih, tiba-tiba segalanya menjadi cukup.

Serasa hanya ada kita saja saat itu di dunia fana ini, sepasang manusia yang bersyukur karena masih bisa menikmati hari itu sebagaimana layaknya, banyak mungkin pasangan lain. Tapi aku tak peduli.

Tuan,
Aku lah lautan memeluk pantaimu erat,
yang ingin menyaksikanmu bahagia
ketika senja tiba,



Bekasi,
15.9.2016