Showing posts with label Menulis Puisi. Show all posts
Showing posts with label Menulis Puisi. Show all posts

Menjadi Biasa

SUATU kali aku akan berjalan mengitari pinggiran pantai berulang-ulang tanpa takut dibilang gila
dan kau akan terkejut ketika tahu aku tidak ada di tempat yang biasa

suatu kali aku akan menghilang, bersembunyi, dan membuang semua cerita ke dasar lubang yang paling dalam dan kau hanya termangu menatapku yang tanpa perasaan apa-apa hendak pergi meninggalkan apapun untuk tidak menjadi apa-apa

Biasa di matamu bisa saja indah bagiku. Lagipula cuma aku yang paling tahu siapa diriku, Oh, Yang Esa juga. Kamu terkecuali. Kamu belum tentu tahu apapun, bahkan niatku untuk sejenak pergi dari hiruk pikuk duniawi pun belum tentu kamu tahu.

Aku selalu yakin, ada tempat di mana aku bisa berteduh tanpa harus khawatir oleh apa dan siapapun. Hanya aku di sana, menatap dan menyimpan senja sesukaku tanpa harus dikritik sana-sini atau berbagi senjaku dengan yang lainnya.

Yang dapat aku pastikan, ada nilai tak tertawarkan di sana. Aku hanya mau menjadi biasa, bukan seperti yang lain sangka.




Bandar lampung,
29.01.2017



Tinggal di Saturnus

Aku ingin tinggal di Saturnus
dimana hanya ada aku dan dirimu
Jangan lupa anjing-anjing kita yang lucu
mereka bermain tanpa tahu ini bukan rumah yang semestinya

Tak perlu lagi kawatir soal nilai-nilai di Bumi
Juga orang-orang yang takut kehilanganmu
Pun orang-orang yang takut aku buta jalan apabila bersamamu
Lagipula, bukankah kita lebih peduli hasrat kita dibanding kicauan mereka?

Tak ada lagi paham-paham bodoh soal keyakinan
Argumen yang membuat hasrat menjadi semu
atau realita hidup yang membuat kita ragu akan hari esok
Tidak, di sana tak berlaku
Kita memulai semuanya bagaikan manusia pertama

Aku ingin tinggal di Saturnus
dimana kita bisa menjawab rindu-rindu tanpa siksa
duduk di balkon lantai dua setiap sore
ditemani secangkir kopi dan pisang goreng
sambil menunggu senja yang lebih jingga dari biasanya

Setiap fajar tiba kita akan saling membangunkan
Melempar senyum walaupun gigi masih bermentega
Aku akan memasak sarapanmu setiap pagi menjelang
Kau akan memeriksa tanaman-tanaman cantik kita di halaman

Kita tak akan peduli masalah-masalah yang ada di Bumi
Terbentuklah planet hunian baru seperti yang kita inginkan
Aku tak akan pernah lagi ketakutan atas kehilangan yang belum terjadi
Aku milikmu, Kau milikku.

Tapi. Kau harus tahu bahwa tinggal di Saturnus akan melelahkan
Mencoba membangun atau melupakan apa yang telah hilang
Kau adalah pria baik yang tidak perlu melelahkan dirimu
Hanya untuk mencintai perempuan aneh sepertiku
Jika tak ingin, kau bisa memilih perempuan baik di luar sana

Namun, Aku mencintaimu, bersamaku di Saturnus..
Kita akan memulai dan menjalani segalanya dengan kesederhanaan
Tidak akan menekan siapapun
Pun membuat yang lain menangis di atas kebahagiaan yang kita ciptakan
Tidak perlu berjanji untuk sehidup semati sampai ada yang pergi
Kepergian tidak akan membunuh diri kita sendiri
Berjanji saja pada Tuhan bahwa kita akan saling menyayangi
sampai batas kemampuan memiliki

Lalu buah-buah cinta kita akan tumbuh
Kita akan menamai anak-anak kita dengan kata-kata yang kita suka
Mendidik mereka bahwa memiliki segalanya bukanlah tujuan hidup
Hukum selamat manusia adalah untuk hidup dan bahagia
Banyak yang menggali dalam-dalam materi untuk yang pertama
Berharap yang kedua akan segera menyusul
Padahal, belum tentu. Belum tentu.

Aku dan segala keputusaanku hari ini,
meninggalkan rumah tanpa karena pun aku belum mampu
Apalagi membawamu ke Saturnus.
Namun, aku belum di sana, masih kah engkau ingin ikut?

"Kau tak akan mengerti segala lukaku, karna cinta telah sembunyikan pisaunya"- WS Rendra

Kemiling,
3.10.2016

Pulang


Aku pulang ke rumah
Dimana Ibu tak lagi lihai memasak
Ayah tak lagi sanggup perbaiki loteng
Adik tak lagi suka mewarnai
Dan aku tak lagi suka main layang-layang

Aku pulang ke rumah
Yang tiap sudutnya melukiskan harapan
Meski suka sekali timbul tenggelam, seperti bercanda

Aku pulang.
Dimana kutepiskan rindu-rindu yang layu
Kulabuhkan pada palung tersemu
Mungkin nanti saling mencari, menunggu,
atau tak sengaja bertemu di satu titik lagi



Kemiling,
23.9.2016

Ruang Petak Tak Berisi

*
Halo, Bung?
Apa kabar surga? Terbuktikah lebih indah dari segala yang pernah Kau impikan?
Kau masuk surga kan, jangan bilang tidak!
...
Jangan pertanyakan soal keberanian, Bung
Yang dulu Kau takutkan, justru semakin mengerikan
Negri ini masih begini-begini saja
Makin banyak ahli agama, ahli hukum, ahli dosa, dan ahli-ahli lain yang membuatmu muak melihatnya.
Mereka teriak perihal kebenaran namun hanya untuk golongannya saja
Yang kecil makin kecil
Yang kaya makin kaya
Yang tertindas makin tertindas
Yang seenaknya makin tak tahu diri
...
Sore ini, Bung..
Keriuhan ini terasa sunyi, sepi sekali rasanya
Bagaimana bisa aku menyerah pada kemunafikan?
Tahun-tahun masih menungguku, demi meraih mimpi yang tak akan pernah bisa kubeli.
...
Apa rasanya, Bung?
Melakukan banyak hal demi orang lain, tapi sebelum mati kau cemas tak dianggap atas apa yang kau lakukan.
Kau melakukannya untuk siapa?
Dirimu saja, atau mereka?
...
Bercerita sore di makam terasa lebih riuh dibanding berteriak di tengah keramaian
Sunyi ini, sendiri ini, di ruang petak ini
Kiranya impianmu pun tak akan habis dimakan zaman
Surga masih akan selalu mengizinkanmu berandai-andai.
...
Selamat berangan-angan, Bung!

***




Museum Taman Prasasti, Jakarta
17.9.2016