Almost There!! (Diary of A Jobseeker - Part 2)

10:01 PM

Hasil gambar untuk jobseeker tumblr
Memulai melamar kerja dengan background Peternakan membuatku punya prinsip "Aku mau bekerja di perusahaan ternama bidang Consumer Goods". Sehingga lowongan lain diluar itu (mohon maaf) sementara belum dilirik-(awalnya). Mulailah membuat daftar nama perusahaan-perusahaan tersebut dan memasukkan aplikasi pendaftaran satu per satu. Sebelum mengenakan toga, aku selalu menekankan untuk tidak idealis memandang apapun peluang di masa depan. Aku termasuk orang yang keras kepala dan perfeksionis, menjalani hidup dengan arogan, merasa bisa mencapai ini itu tanpa membaca kapasitas diri. Sifat idealis itu penting namun harus lihai dalam menempatkan prinsip, idealisme seseorang tidak bergantung pada usia, karena masih banyak saja orang yang sudah ‘matang’ namun masih mendewakan idealismenya dan salah menempatkan. Memang idealisme pribadi adalah hal baik yang menandakan bahwa kita merupakan orang yang berprinsip dan memiliki tujuan hidup yang jelas serta apa-apa yang ingin kita capai kedepannya.

Namun, apakah hal itu cukup? Tidak, karena idealisme pun harus menyesuaikan keadaan saat ini, peluang di masa kini, dan juga orang-orang sekitar. Sebenarnya aku adalah orang yang tidak punya parameter panjang dan tinggi-tinggi soal karir, karena memang aku lebih penasaran mengejar passionku dibandingkan punya karir hebat. Kalau kata salah satu teman, aku adalah tipe manusia yang lebih suka terlibat dan menjalani saja ketimbang belum menjalani tapi sudah punya mimpi yang panjang. Kebiasaan fresh graduate kebanyakan adalah:
  1. Gue mau kerja apa ya ntar abis lulus, mengisi posisi manager dong tentunya. Kan S1 mah bukan pekerja, tapi pembuat konsep. 
  2. Males ah kerja di marketing, pokoknya gue ga mau kerja yang ada targetnya kaya finance-finance gitu (sumpah ini gue dulu) 
  3. Kerja apa ya yang bisa langsung naik jabatan cepet? 
  4. Pokoknya gajinya harus diatas 5 juta lah S1 mah HAHAHAHA!! (padahal pada ga banyak yang tau juga kalau beda daerah beda standar gaji) 
  5. Gue pengennya kerja di perusahaan terkenal lah 
  6. Kerja nanti harus sesuai lah sama disiplin ilmu, biar linier karirnya *bawa bendera fakultas*. 
  7. Di Bandung aja lah kerja (sumpah ini gue juga HAHAHA ya gimana ya bandung nyaman abis) 
  8. Kaga mau ah kerja di domisili rumah, ya elah ngapain udah jauh-jauh kuliah terus balik rumah 
  9. Ehh si A gua anjurin daftar ini itu malah keterima panggilan tes mulu kok gue kaga sih, udah ah nanti gak usah kasih tau lagi kalo ada loker yang bagus-bagus! 
  10. Lamar yang keren-keren langsung ah, yakali IPK kaya gua ga bisa lolos perusahaan keren. Mustahil!
Pernah? Yup, everybody does.
Manager? Iya gak masalah sih… hanya saja kita hidup di negara yang lapangan pekerjaan memang banyak tetapi jumlah calon pekerjanya juga LEBIH BANYAK. Boleh disearching pengangguran S1 dan S2 di Indonesia itu bagaimana, sangat sedikit sekali ada cerita S1 langsung jadi manager. Mungkin kalau zaman Ayah dan Ibu kita masih begitu, masih kuliah saja sudah di tag buat kerja. Apalagi khususnya di bidang peternakan, andai saja kementan dan dirjen peternakan isinya anak pertanian sama peternakan. Terkadang yang bicara soal impor sapi saja tidak ada gelar-gelar Peternakannya. Sesungguhnya, tidak ada salahnya memiliki pemikiran seperti itu dan sangatlah wajar. Setiap fresh graduate pasti melalui masa-masa pergumulan seperti itu, hanya saja jangan sampai pemikiran-pemikiran itu mengantar ke kehidupan yang kurang menyenangkan. Belajar menjadi pribadi yang dinamis tapi bukan plin-plan, bijak membaca peluang, dan NO PAIN NO GAIN. "Learning by doing…"  merubah kerangka pikir dan pemahaman juga sifat dan pola pikir lebih baik. 

and The Journey Begin..

>1 bulan berlalu, Well, masih bulan Mei dan baru masuk bulan pertama sebagai seorang Sarjana, masih berasa-berasa baru ini pengangguran. Tidak diterima di Nestle dan Nutrifood kemaren belum apa-apa, jadi sepertinya belum menjadi masalah yang seriuslah kalau belum juga bekerja, toh perusahaan yang dilamar juga baru beberapa. Tenang dulu. Rumah menjadi pilihan maka lebih baik pulang dulu, menyediakan waktu untuk keluarga dulu karena kasihan Adik di rumah mengurusi kedua orangtua sendirian. Tentunya sambil memantau setiap info lowongan kerja via online, alih-alih membuat alasan masih belum bekerja karena fokus pada keluarga dulu. HAHAHA..

Bulan ke- 1 berlalu (Bulan Juni), sudah mulai panas kuping ini mendengar orang rumah, saudara dan tetangga yang terkesan jadi sok paling tahu sama kondisi lapangan pekerjaan. Ada juga loh yang menghakimi dan mengejek bahkan, tapi ya sudahlah. Lidah memang tidak bertulang, mau bagaimana lagi. Tabah dan sabarkan hati. Situasi rumah sudah tidak kondusif, maka memutuskan kembali lagi ke Bandung berhubung kosan juga habisnya pada akhir Juli jadi masih ada kesempatan untuk berkembang. Aku tidak tahu kalau orang lain, tapi mendekam di rumah membuat diri jadi kurang kreatif dan merasa dibatasi soal ini itu. Akhirnya cenderung menjadi pribadi yang mengalah, mengalir saja biar tidak pusing. Sekalian mengurus kelengkapan administrasi untuk daftar wisuda, ijazah serta transkrip. Sesampainya di Bandung mulai bergerak lagi datang ke beberapa jobfair dan membenahi akun di Jobstreet dan kawan-kawannya, meskipun seperti mustahil saja melamar dari portal-portal kerja seperti itu kalau belum memiliki pengalaman kerja. Kebetulan ada jobfair di UNPAD tanggal 14-15 Juni 2016.


Bulan ke- 2 (Bulan Juli), sudah lumayan perusahaan yang diikuti untuk tes terutama yang berasal dari Jobfair UNPAD yaitu MT circle K (gagal di psikotest), MT Superindo (gagal di psikotest), dan MDT Nestle (sampai HRD namun tak kunjung ditelepon lagi setelah harap-harap 2 minggu). Dan pertanyaan-pertanyaan berikut mulai hadir mengusik, kapan kerja? Udah diterima kerja dimana? Oh belom, emang ngelamar kerja dimana aja? Tarik nafaaaaaaaaaaaaas, sabar. Tenang, masih ada yang lebih menyakitkan…Loh, kok belom kerja, si Anu di perusahaan ini lo, si Itu diterima di sana! Masa kamu yang begini begitu X, Y, Z belom juga kerja – pengen pura-pura kesurupan aja. Sedihnya adalah.. orangtua pun ikut-ikutan menghakimi dengan cara yang sama. Tapi, terimakasih untuk orang-orang seperti ini yang memberi pertanyaan dan hobi sekali melakukan riset perbandingan-pebandingan telah lahir di dunia ini, setidaknya membuat dada aku lapang eh lapang dada dan begitu tahu artinya sabar.

Bulan ke- 3 (Bulan Agustus)
  • Minggu- 1, AKU MAU WISUDA. Satu minggu sebelum wisuda aku menangis tiap malam, mengkawatirkan ini itu. Terlalu takut rasanya meninggalkan Bandung secepat itu, belum siap numpang tinggal di tempat saudara lagi. Tapi apa daya, orangtuaku belum mampu untuk mendukung secara materi lagi. Maka momen yang seharusnya dinikmati dengan bahagia, ada yang mengganjal di dalam hati. Tawa waktu itu kurang lepas, tidak seperti biasanya. Aku kurang menikmati momen wisuda itu, karena aku yakin kehidupan setelah ini pasti harus cepat-cepat dipahami padahal aku enggan masuk di dalamnya. Aku berjanji sebagai penebusan atas euphoria wisuda yang kurang aku rayakan, akan aku buat sebuah tulisan nanti. Bagaimanapun wisuda menjadi tolak ukur juga untuk siap ke gerbang yang sesungguhnya. Di minggu pertama tepat H-1 wisuda aku meruntuhkan ego dan mengurungkan niat untuk bertahan melamar hanya ke perusahaan consumer goods saja, akhirnya aku mendaftar Medion dan mengikuti tes psikotestnya. Hasilnya? Tunggu 2 minggu lagi dari tanggal 2 Agustus 2016. H+1 wisuda lagi-lagi aku meruntuhkan prinsip untuk tidak melamar di bank maupun Finance, aku melamar ke sebuah perusahaan Finance di Bandung dan mengikuti tes psikotestnya. Hasilnya? Aku pergi setelah melihat namaku tidak tertulis di pengumuman yang mereka keluarkan satu jam setelah tes psikotest berlangsung. Sebenarnya test nya sama saja dengan yang sudah-sudah, namun ketika sebelum test berlangsung mereka sempat menjelaskan mengenai keterikatan kontrak serta pinalti yang harus dibayar apabila keluar dari kontrak. Cukup menyeramkan, seperti dikotakkan kreatifitas yang aku punya sehingga pada akhirnya aku pulang dengan perasaan yang biasa-biasa saja.
  • Minggu ke-2, Aku sudah di Bekasi. Tiga hari pertama aku sangat amat berusaha menyesuaikan diri, baik panasnya, nyamuknya, orang rumah saudara dan masih banyak hal lain lagi yang membuat aku ingin pulang ke Lampung saja. Aku mulai merasa harus menghilang dari media sosial, menjarangkan aktif di grup-grup segala jenis pertemanan, dan lebih aktif melihat lowongan kerja saja. Am I desperate? YES I AM. Sangkin putus asanya waktu itu, aku akhirnya menghubungi Bunga teman SMA untuk bertanya adakah lowongan pekerjaan di sana dan ternyata ada!! Aku dianjurkan menjadi Purchasing di perusahaan Importir Teh dari Taiwan di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.
  • Minggu ke- 3, Senang sekali akhirnya dipanggil interview oleh mereka, benar-benar moodbooster sekali buat waktu itu, ditambah saat mau masuk mulai interview..aku ditelpon oleh medion untuk datang interview tahap user ke Bandung. Mau meledak saja rasanya hari itu, aku selesai interview dan pulang dengan senang hati. Tasya ke Bandung lagi!!!!!!!
  • Minggu ke- 4, Tanggal 21 Agustus 2016 aku sudah di Bandung. Senang sekali rasanya bisa ke Bandung lagi, memang bisikan Bandung kuat sekali ingin memelukku. Betapa aku mensyukuri apapun yang aku lihat dan rasakan saat itu di Bandung. Bahkan kau boleh tertawa, saat mandi pertama memakai air di Bandung, Aku merinding kedinginan!!! Bekasi mau sedingin apapun cuacanya, tetap saja airnya tidak segar. Tanggal 22 Agustus 2016 ketika bersiap untuk berangkat ke Medion, ada nomer tak dikenal menelepon aku lagi setelah sebelumnya menelepon juga namun aku sedang di kamar mandi dan tak sempat diangkat. Kau tahu itu telpon dari siapa??? HRD NESTLE TELPON LAGI!!!!! Beliau mengatakan bahwa aku diundang untuk interview user yaitu wawancara bersama Ibu Helen Herlianty, di mana Beliau adalah National Field Operation Manager Nestle Indonesia. Aku teriak-teriak masih tidak habis pikir, bagaimana bisa satu bulan lebih aku ditelepon lagi padahal waktu itu mereka bilang kalau dalam dua minggu tidak ada kabar berarti “mohon maaf Anda belum dapat bergabung bersama kami”. Tapi hari itu, keajaiban terjadi. Aku berangkat dengan gembira sekali menuju Medion, sambil memikirkan jadwal aku berlatih, merapikan rambut dan merawat diri sebaik mungkin untuk persiapan hari Senin nanti. Satu minggu lamanya aku di Bandung, menikmati hari-hari di sana bersama teman-teman di sana. Setiap malam jalan keluar, makan di luar..entahlah dua minggu di Bekasi serasa dua bulan lamanya. Aku sempat juga tes PT. Paragon Technology & Innovation hasil dari Jobfair Polban, dan mengikuti jobfair di SBM. Nanti aku juga akan berikan tips mengikuti jobfair yang baik! Tunggu saja.
  • Minggu ke- 5, hari yang ditunggu datang. Tanggal 29 Agustus 2016 pagi aku sudah bersiap dan berlatih lagi dan lagi, baik itu sikap, cara menjawab yang baik, senyum yang ramah, dan juga kualitas menjawab yang berbobot. HRD Nestle pun baik sekali memberikan tips kepada aku bagaimana wawancara yang baik, aku mensyukuri sekali hari itu terjadi. Aku berangkat menujur Stasiun Jatinegara untuk menuju Stasiun Manggarai, dan mulailah ada masalah. Kereta menuju Stasiun Manggarai terhenti di Cakung karena ada masalah dan harus diperbaiki, 1,5 jam aku cemas dan mulai gelisah menunggu. Waktu sudah menunjukkan 13.12 tidak banyak lagi waktu menuju pukul 15.00, Setidaknya jam 14.00 aku harus sudah sampai di kantor Nestle. Ternyata, ada seseorang Ibu yang memperhatikanku yang sedang gelisah. Beliau bertanya aku hendak kemana, kebutuhan apa memakai baju rapi seperti mau kerja, dan juga asal darimana. Ketika kujawab ingin Interview di Nestle, Ibu itu lantas langsung mendoakanku dengan memegang tanganku. Selesai mendoakanku, Ia melihat telapak tanganku lalu berkata: “Tenang Nak, kamu sudah terpilih olehNya sejak Dia mati mengorbankan diriNya. Sudah rejekimu itu nanti, tidak usah kawatir. Kuat!” Lalu Ia menangis. Aku kaget bukan main, seharusnya aku yang menangis karna sikapnya yang begitu tulus mau mendoakanku. Ternyata, Beliau pun sedang tidak baik-baik. Ia sedang mengalami masalah soal pensiunnya, maka sudah dua bulan Ia luntang lantung di Ibukota ini hanya untuk mengurusi biaya pensiunnya. Kau tahu Ia darimana? Ambon! Lantas dengan cepat aku mengutuk birokrasi Pemerintah yang tega membiarkan Ibu tua seperti ini jauh-jauh datang hanya untuk sesuatu yang mungkin bisa saja diupayakan diurus dari sana. Aku menguatkannya, mengusap bahunya dan ingin rasanya memeluknya saat itu. Aku berterimakasih atas sikapnya itu, dan melemparkan senyum paling tulus yang bisa aku berikan. Aku tak punya apa-apa saat itu, cuma itu yang dapat aku berikan. Tak lama kereta kami datang, dan ternyata kami masih bersama sampai di Manggarai yang hanya satu stasiun saja dari Jatinegara. Aku terus berjalan di sampingnya, memang kami pisah kereta namun cepat sekali Ibu itu hilang padahal aku jalan pelan sekali memperhatikan untuk menjaganya dari belakang. Aku berbisik mengucap perpisahan dan memohon Tuhan untuk menyertai langkahnya, lalu aku naik kereta menuju Stasiun Tanjung Barat. Sesampainya di Nestle aku melihat lambangnya dan mengucap pelan di belakang Mas Gojek “This is gonna be my head office”, kantornya megah sekali untuk masuk saja harus memiliki kartu untuk. Sudah pukul 14.00 WIB, aku berusaha menenangkan diriku dan hingga akhirnya namaku dipanggil. Interview berlangsung selama 25 menit, aku bisa menjawab dengan baik dan sudah merasa memberikan semua yang bisa aku upayakan. Perjalanan pulang lega sekali rasanya, malam itu menjadi malam pertama aku bisa bersyukur menikmati kota Jakarta.
    Keesokan harinya aku nothing to lose saja, tidak terlalu kawatir sekali apabila tidak ditelepon pihak Nestle lagi namun yaaa sisi manusiawiku berbisik: lelah juga membayangkan apabila aku harus test atau ke jobfair lagi. Namun, apapun itu bentuk kekawatiranku:
     "KehendakNya lah yang terjadi, bukan kehendakku. Terjadilah padaku menurut perkataanMu".

    Aku mengisi hari dengan berenang, memasak makanan, nonton film bersama sepupuku supaya tidak gundah menunggu-nunggu kabar. Sampai akhirnya malam tiba, ada telpon dari HRD Nestle lagi!


    -------- Penantian sabar berbuah manis --------



    Setelah...

    Ribuan Kilobyte Quota internet dihabiskan.

    Jutaan Rupiah dikeluarkan untuk mobile kesana kemari dan biaya makan semasa pengangguran.
    Berjam-jam waktu dihabiskan untuk melakukan kegiatan tanpa pemasukan.
    Ratusan lembar kertas dihabiskan untuk membuat surat lamaran dan dokumen lainnya.
    Puluhan lembar pas photo berbagai macam ukuran dipersiapkan.
    Ribuan Kilometer ditempuh dan dilalui untuk mencari pekerjaan.
    Puluhan jenis akomodasi digunakan baik kereta api, motor, bus, busway, travel minibus, taksi, angkot, dan ojek untuk menuju tempat seleksi melamar pekerjaan.
    Puluhan liter tetes air mata duka dan bahagia dirasakan.
    Lebih dari 25 perusahaan yang berhasil dilamar dan tak kunjung menemukan jawaban pasti.

    Kau tahu apa??
    AKU DITERIMA DI MDT NESTLE BATCH 10
    untuk bulan Oktober nanti!!!
    Sungguh Kuasa Tuhan sekali, ditambah penempatannya di Lampung.
    Tuhan terampil sekali meletakkan rencana atas hidupku dan benar-benar indah pada waktunya. Aku juga bisa fokus ke orangtuaku dan membantu adikku lagi, seakan kekawatiranku selama ini untuk orang yang kusayangi dijawab sekaligus oleh Tuhan.
Mau tahu kuncinya apa? Baiklah, aku tak bersikap teroritis atau religius di sini.

Ini hanya pengalaman luar biasa yang baru kali ini aku merasa menjadi manusia yang terpilih dan diselamatkan. Jika kamu menginginkan sesuatu mengucaplah, mintalah dengan baik bukan memaksa, bilang pada Tuhan kalau itu yang terbaik tunjukkan jalan. Benar loh kawan! Tuhan menunggumu untuk meminta, selama itu kamu berusaha keras kepala untuk sesuatu yang tidak kamu coba meminta restu padaNya, kamu tidak akan mendapatkannya. Semua yang kulalui selama ini tidaklah mudah, tapi sikap act and feel like there is nothing to lose, try everything.. membuatku tetap tegar menjalani apapun hambatan dalam pencarian kerja selama ini.

Kamu masih belum dapat pekerjaan?
Kamu menganggur lebih lama daripada aku?

TENANG!!!!
Kamu bukan orang yang gagal, mungkin memang banyak di luar sana yang mendapat pekerjaan saat setelah lulus ataupun sebelum lulus. Tapi, itu mereka. Bukan kita. Rejeki sudah Tuhan yang mengatur, porsimu itu Tuhan yang tahu bukan orang lain yang komentar soal status kita. Temanmu yang lebih dulu mendapatkan pekerjaan pun pasti punya hambatan sendiri, rasa salah tempat untuk bekerja, rasa kurang puas atau ingin keluar saja. Apalah artinya status sesaat seolah kamu berbangga sudah mendapatkan kerja, namun pada akhirnya tidak kamu syukuri atau kamu nikmati. Maka sabarlah menanti sambil kamu berusaha sambil lantunkanlah doa, cuma media itu saja kamu bisa berkomunikasi intim denganNya dan harganya GRATIS, bisa di mana saja Ia pasti mendengarkanmu. Sekali lagi, Tuhan menunggumu untuk meminta. Tunjukkanlah niatmu untuk menanti sesuatu yang terbaik bagimu itu kepadaNya. Maka dengan tangan terbuka Tuhan pasti membuka jalan dan membantumu untuk sampai kesana.

Tuhan merawat semua perasaan dan keputusasaan kita: baik yang telah menyala, yang masih bara, bahkan, yang telah sirna. Karena... Tuhan hidup menggelandang di tubuh yang dibangun dari pesta pora. - Adimas Immanuel

Jadi, Bersahabatlah dengan waktu.
Tangis duka akan berganti dengan tawa bahagia.
Kisah perjuangan kamu akan menjadi sejarah yang melegenda.
Selamat menanti dan terus berjuang !


Note :
Jadi pengangguran, jangan mati gaya ya..
Isi waktu sembari menanti dengan memperbaiki kualitas diri, seperti; membaca buku, meningkatkan skill memasak, les bahasa Inggris, menulis, belajar adobe photoshop, belajar editing video, bertemu mahasiswa atau siapa saja untuk sharing saling mengisi dan kegiatan lainnya yang memberi NILAI TAMBAH bukan hanya kebanyakan tidur, makan, atau nonton film sambil makan lalu ketiduran.


Salam Semangat  Pengangguran,
- ALB -

Bekasi,
2/9/2016

You Might Also Like

1 komentar

  1. Hi Mba,

    Selamat ya diterima di Nestle, saya juga masih berjuang cari kerja nih hehe.

    Boleh tahu kalau MT Nestle itu dikontrak berapa lama?

    Thank you :)

    ReplyDelete

Follow by Email