Malaikat Tak Bersayap

Halo semuanya, izinkan saya punya cerita sedikit.
Sebagai manusia korban social media, saya tergerak untuk melakukan sesuatu. Meskipun langkah ini hanya sebuah gerakan kecil, namun saya berharap adanya dampak besar yang bisa didapat. Saya percaya setiap manusia memiliki cinta dan hasrat untuk menjadi lebih baik, entah untuk dirinya sendiri ataupun menjadi guna untuk orang lain.
Seringkali kita tidak paham bahwa sebenarnya Tuhan ada dimana-mana, kita kurang melihat ke kanan dan ke kiri bahwa sebenarnya banyak malaikat tanpa sayap di luar sana dan ada Tuhan di dalam insan mereka. Berbuat kebaikan tidak melulu harus dalam skala besar, sekecil apapun kebaikan akan berbuah terus menerus. Karna saya percaya kebaikan seperti rantai, terus tidak pernah putus.
Saya berkenalan dengan saudara Aldi RayFaldo seorang anak muda yang menemukan Nenek Gentian Berutu.

Berikut kisahnya yang saya repost.


"Astafirullah ya Allah,

Kemarin ketika saya sampai di Medan,orang tua saya langsung memberitahukan kepada saya,bahwa ada seorang wanita yang sudah lanjut usia,yang sangat layak untuk dibantu.

Dan malam ini,saya beserta ibu saya menyempatkan untuk melihat langsung kondisi wanita tersebut.
Wanita tersebut bernama Nenek Gentian Brutu.
Beliau tinggal sendirian didalam sebuah gubuk kumuh di dalam lahan jagung.
Beliau menumpang di lahan tersebut,dan mendirikan sebuah gubuk untuk tinggal.
Namun belakangan ini,pemilik lahan sudah menyuruh beliau untuk pindah,dikarenakan lahan tersebut akan dibuat perumahan.
Sekarang beliau tidak tau akan menetap dimana.

Bagi kalian yang ingin menyisihkan sedikit rezeki untuk nenek ini,bisa melalui saya atau langsung datang ke tempat nenek tersebut.
Kami sudah menanyakan kepada beliau,apakah ingin dibuatkan rekening sendiri untuk penampungan dana,namun beliau bilang tidak perlu,karena beliau buta huruf dan tidak mengerti cara menggunakan bank.

Beliau mengamanahkan pengumpulan dana donasi kepada saya.
Seperti biasa,semua dana yang masuk akan saya informasikan secara transparan dan akan diserahkan sepenuhnya kepada nenek tersebut.
Nenek tersebut berkata,ingin sekali menyewa sebuah rumah.
Marilah kita saling bantu-membantu untuk mewujudkan impian beliau.
Karna tempat tinggal beliau yang sekarang jauh dari kata layak.

Bagi yang mau berdonasi,silahkan.
Semoga amal kebaikan anda dibalas oleh Allah berkali-kali lipat.
Bagi yang tidak ingin berdonasi,tidak apa2.
Tidak perlu susah payah untuk berkomentar yang negatif.
Jangan halangi sesorang untuk berbuat kebaikan.

Jika anda tidak percaya melalui saya,bisa langsung ke alamat nenek tersebut di Simpang Melati,Jalan Flamboyan Raya,Gang Ikip,Kelurahan tanjung selamat, kecamatan medan tuntungan.
Atau jika ingin saya antarkan kerumah nenek tsb,bisa langsung kerumah saya di Jln Flamboyan 10,Gang Batak,Kelurahan Tj Selamat, Kec Medan Tuntungan.
Bagi warga medan dan sekitarnya,saya harap anda bisa menyempatkan diri untuk datang langsung ke lokasi untuk melihat kondisi kehidupan nenek tersebut dan memberikan langsung bantuan tanpa melalui saya.

Bagi yang diluar kota,yang ingin berdonasi bisa ke rekening dibawah :

Bca
7870456616 a/n ALDI RAYFALDO PUTRA

Bri
532201010501532
ALDI RAYFALDO PUTRA
Donasi ditutup tanggal 10 agustus 2017.
Semoga rezeki kita dilimpahkan oleh yang maha kuasa, Amin ðŸ˜‡



Saya mengajak Bapak, Ibu, Kakak, Adik, dan teman-teman sekalian untuk sudi membantu makhluk Tuhan juga ini dalam bentuk APAPUN, baik itu moral maupun materiil. Terutama saudara-saudara sekalian yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara.



Saat ini Inang kita ini sudah diberikan bantuan oleh tim @tnbgpedulisesama yaitu uang sebesar 5.000.000 rupiah untuk dapat mengontrak rumah tidak jauh dari Ia ditemukan selama 1 tahun. Namun dengan perabotan seadanya, kasur dan bantal seperti itu sangat besar harapan saya kita bisa memberikan Inang kita ini kompor, peralatan masak, kasur yang layak, beras, dan perabotan rumah sederhana untuk bisa digunakan oleh Beliau dengan baik.

Bagi yang ingin berdonasi langsung bisa transfer dan sertakan bukti transfernya ke saudara Aldi Rayfaldo Putra sendiri akan secara transparan dilakukan laporan uang dibelikan untuk apa saja.
Bagi yang ingin main kesana dan memberikan bantuan secara langsung bisa datang ke rumah Inang ini di:
Alamat lengkap Penggalang Dana
atas nama ALDI RAYFALDO PUTRA
Jalan Flamboyan 10,Gang Batak No. 1,Kelurahan Tj Selamat,Kec Medan Tuntungan.


“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” 






Bandung,
4/8/2017

Langit Tidak Pernah Bilang bahwa Ia adalah Langit

Saya tidak lagi mau meminjamkan ruang tamu saya untuk siapa pun yang singgah. Tidak ada lagi sapaan ramah yang mempersilakan siapapun masuk dengan derit kursi yang bergeser seakan saya menawarkan tempat duduk seperti biasanya, atau menawarkan gelas-gelas kopi dan teh yang telah diseduh berulang-ulang. Layar televisi yang terus menyala sedangkan berita hanyalah itu-itu saja, semacam udara kosong dengan alur yang sudah kita mengerti. Setiap helaan nafas adalah kemerdekaan saya karena telah saya miliki seluruh oksigen untuk diri saya sendiri. Berdebat dengan ke-aku-an dan pemahaman yang bertumpuk-tumpuk. Saya yakin ada beribu diri saya di dunia ini yang juga mengulangi kebiasaan ini. Hanya aku dan diriku. Tidak ada yang membedakan.

Saya bisa jamin sesuatu..
Kamu tidak akan mampu membayar sebuah kecukupan dan bergegas berkemas untuk pergi. Tidak ada tempat lain selain di sini. Kesederhanaan ini membawa saya pada sebuah arti hidup bahwa hakikat manusia adalah berusaha. Usaha saya masih terus berjalan, kadang mungkin sesat arah, kadang mungkin mulai mau menyerah, tapi itulah hidup layaknya sabda Einstein

"Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” 

Namun, kelelahanku sudah menguap dan hanya pertahanan yang tersisa. Tidak lagi mendamba sebuah titik temu. Barangkali inilah harga yang harus dibayar untuk segala kebebasan yang enggan untuk diikat. Selalu berlarian dan tidak ingin menetap. Melakukan semuanya dengan pengulangannya yang lembut, senyum yang tenang, dan nafas yang teratur. Apakah ada kebebasan yang betul-betul bebas tanpa ada belenggu yang mengikutinya?

Akhirnya saya pun harus bersabda juga soal ini..

Manusia mana yang berhak untuk menimbang besar atau kecilnya iman manusia lainnya? Atau teriak lantang menilai iman manusia lain baik atau buruk? Keyakinannya benar atau tidak benar. Siapa? Pertemukan saya dengan dia!

Mungkin manusia itu sudah beberapa kali pulang pergi dari Surga ke Bumi, Nyawanya ada 9, punya kekuatan menghilang, atau barangkali dia adalah wakil dari Sang Pencipta.

Saya muak dengan segala penghakiman, betapa manusia mudah sekali berbicara hal yang dianggapnya benar dengan tanpa menginjak pemahaman orang lain, atau setidaknya jangan ada ucapan tidak akan ada selamat kalau bukan agamanya yang ini karna agama lain sesat, tidak ada keselamatan. Setahu saya, Tuhan itu Mahabaik. Lupa ada poin "berusaha"? Yang menjamin keselamatan saya tentunya yang menciptakan Saya, bukan orang-orang yang merasa bermartabat dalam ilmu agamanya namun sikapnya nihil. Mantan pembunuh sekalipun kalau setelah itu dirinya berbuat baik dan bermanfaat untuk sesama akan lebih punya nilai plus dibandingkan orang-orang yang menggurui orang lain namun tidak melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk keluarga, lingkungan sekitar, terutama untuk dirinya dan Tuhannya.

Buat apa kalau cuma duduk sibuk dengan media sosial, mengkritik ini-itu tapi TIDAK MELAKUKAN APA-APA untuk sebuah perubahan yang baik. Parahnya lagi apabila lebih suka mengikuti perkembangan hidup orang lain atau menuntut sebuah perubahan namun pada akhirnya enggan memilih dirinya untuk menciptakan suatu perubahan.

Sialnya, banyak manusia yang sok tahu di negri ini. Ada beberapa tipe manusia di Indonesia ini:
  1. Orang yang merasa keyakinannya benar, menyebarkan kebenaran dengan pemahamannya lalu menginjak keyakinan orang lain. Seolah-olah hanya pada kaumnya lah ada keselamatan, orang seperti ini pada akhirnya bergaul dengan mengkotak-kotakkan dirinya di antara orang lain. Menghakimi iman orang lain, menimbang seberapa besar atau kecilnya iman seseorang, segala yang di luar pemahamannya adalah tidak benar. Sekali lagi, hanya dirinya lah yang dianggapnya benar.
  2. Orang yang merasa keyakinannya benar, segala hidupnya untuk agama. Seluruhnya! Namun lupa hakikat dalam beragama, main tangan pada suami/istrinya, menjadi orang yang tamak, tidak pernah menolong orang lain, tidak pernah bersedekah, suka sekali membandingkan menyalahkan sikap orang lain karna tidak sesuai dengan prinsip yang ia anut. Tipe seperti ini cenderung menjadi guru/hakim di tengah masyarakat, jangan kau sangsikan ilmu agamanya. Dia lah yang paling jago dalam paham-paham agamanya.
  3. Orang baik yang diam. Masih banyak orang baik di negri ini, namun banyak yang memilih diam. Tidak bersuara, seakan dirinya hanyalah numpang hidup saja, main aman di negri ini namun tetap menuntut perubahan dengan tidak mau memulai perubahan tersebut.
  4. Mungkin masih banyak tipe lainnya.. memikirkan 3 saja nafas saya sudah berat.
" Langit tidak pernah bilang kan bahwa Ia langit? "
Maka dari itu tolong..
Berhentilah menuntut perubahan namun menyuruh orang lain yang melakukan perubahan itu! Why not asking yourself before you judging someone's life, someone's faith. Nobody does, except our GOD who's create this earth, a testing place not a resting place.

Kesedihan saya akan selalu begini, betapa saya terkejut iman saya ditimbang, sikap saya dikait-kaitkan dengan masalah yang ada. Saya dihakimi secara keseluruhan, yang tahu kekuatan iman saya adalah saya dan Tuhan saya saja. Bukan kamu, yang menilai saya secara cepat dan berasumsi bahwa pemikiran saya sesat. Orang tua saya sekalipun tak berhak, apalagi kamu? Keyakinan yang saya anut adalah kepercayaan buat saya kepada Sang Pencipta bahwa saya sedang berusaha menuju kesana, dengan belajar dan belajar setiap harinya, berusaha melakukan segalanya sesuai kehendak-Nya. Hidup saya ada di tangan Tuhan, bukan di tangan kamu. Bukan lewat aturan kamu hidup saya menjadi benar. Bukan.

Banyak orang membabi buta terhadap keyakinannya, lupa bahwa Tuhan tak perlu diingatkan, Tuhan tak perlu dijanjikan apa-apa, Tuhan tidak perlu dibela, Tuhan tidak suka dibanding-bandingkan (justru dengan mulai membandingkan, kita mulai egois bukan?)
Tidak ada yang bisa menjamin apa yang kita lakukan benar selain Ia yang Maha Melihat, selama kita usaha, usah, usaha menjadi yang terbaik sesuai kehendak-Nya pasti keselamatan itu ada, apapun keyakinanmu, apapun agamamu, apapun yang kamu anut. JADILAH BERMANFAAT!

Demikianlah ageman saya, punyamu mungkin lain lagi saya tidak peduli namun pasti saya hormati.

Saya, yang hidup beragamanya kamu anggap kurang..

Jakarta,
14.5.2017

Belajar Menghela Nafas di Jakarta

Ada seorang perempuan yang semasa kuliahnya gentar berteriak "Gak akan pernah aku tinggal di Jakarta, apalagi kerja di sana." Well, she deserve it. Me, in Jakarta now.

J A K A R T A

Setelah 6 bulan bekerja di bendera perusahaan besar ternyata serta merta tidak membuat saya bahagia seutuhnya, betapa bekerja pun merupakan sebuah perjalanan pencarian jati diri dan saya rasa sudah saatnya saya berpindah. Saya tidak menemukan apapun di sana, kamu boleh bilang 6 bulan adalah waktu yang terlalu dini untuk keluar mencari pekerjaan yang lain lagi. Namun sudah cukup saya memakai 6 bulan saya untuk akhirnya menyadari sesuatu yang dijalani setengah hati lebih baik tidak perlu dijalani lagi sebelum akhirnya banyak waktu lagi yang hilang untuk menjalani dunia yang kita tidak senangi. Namun terlepas dari itu, saya merasa sangat bersyukur bisa belajar dan berkarya di sana, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya ambil dan saya pakai di masa depan kelak. Teruntuk perusahaan yang sudi menerima, mendidik, melepas, serta mengabulkan permohonan resign saya, saya ucapkan terimakasih banyak.

Pelajaran berharga dari proses ini adalah, ketika kita fresh graduate memang sedang proses yang sangat menggebu-gebu untuk mendapatkan pekerjaan. Selain untuk alasan bertahan hidup, rasa-rasanya memang layak lah setiap fresh graduate mendapatkan pekerjaan karena kuliah sudah bayar mahal-mahal, kuliah susah-susah dengan segala tugas dan tanggungjawabnya, belum lagi citra sebagai mahasiswa tidak mau jadi pengangguran atau beban negara. Namun, ternyata memang tidak semudah itu. Sialnya kita tinggal di negara dimana setiap tahunnya semua universitas banyak menampung jumlah lulusan baru yang pada akhirnya lowongan pekerjaan tidak sebanyak itu.
Fresh graduate pun masih mencari-cari identitasnya dalam bekerja, tergantung prioritasnya apa dulu;

  1. Mau salary besar?
    Jawaban: Lamar lah pekerjaan di perusahaan superior seperti rokok, atau industri luar persetan dengan perusahaan tersebut bergerak di bidang apa.
  2. Mau mencari jenjang karir yang baik?
    Jawaban: Lamarlah perusahaan retail, FMCG, manufaktur, properti, dll.
  3. Pekerjaan dan hidup yang seimbang? Lamarlah ecommerce, bank, dll.

Mau ketiga-tiganya? JANGAN HARAP. Kalau mau ketiga-tiganya diraih dengan baik, berwirausahalah. Jadi enterpreneur.


Tapi saya gak sejago itu tahu bagaimana cara menjadi enterpreneur, saya juga lagi cari-cari cara bagaimana caranya menjadi bos sekecil apapun usaha yang saya punya, memberi pekerjaan orang lain, mengatur jadwal bekerja dengan baik, membuat suasana perusahaan kecil saya menjadi asyik dengan menjadi owner yang ramah kepada seluruh karyawannya. Mungkin ini lah yang dirasakan oleh Kolonel Harland Sanders, Larry Page, Garret Camp, Achmad Zaky. Mungkin nanti akan ada tulisan "bagaimana menjadi enterpreneur" ditunggu saja :p

Bukan berarti pekerjaan sebelumnya tidak baik, pekerjaan sebelumnya sangat baik tapi saya seperti terjebak di dalam ambisi yang membutuhkan orang-orang yang menggilai materi. Rasa bosan membuat saya mencari peran, bahwa tempat saya bukan di sana, mungkin kamu yang cocok di sana, mungkin Si itu, Si ini, siapapun. Cuma si itu dan ini belum berjodoh saja menemukannya atau belum menemukan keberanian untuk melamar di sana. Beda dengan saya, sudah terjun namun tidak pas. Banyak yang bilang saya manusia yang tidak bersyukur, menepis rezeki, dll.


Hmm.... whatever, is not easy to run somebody's life, right?


So, here I am in Jakarta.
Saya kerja di salah satu e-commerce di Jakarta, memang keadaan saya sedang mencari pekerjaan dan hidup yang seimbang. Beruntungnya tidak lama dari tanggal resign saya sudah mendapatkan pekerjaan lagi, memang dari dulu impian saya bisa kerja di e-commerce lingkungan anak muda kreatif yang menumbuhkan semangat hal baru setiap harinya, karna lebih baik rasanya bangun dari tempat tidur tanpa tahu apa yang mau dilakukan hari itu daripada bangun dengan sudah tahu apa yang mau dilakukan. Dan satu lagi.. TIDAK MEMBAWA PULANG PEKERJAAN KE RUMAH hahaha. 

Kalau orang tanya wah gajinya lebih kecil dong? Kan gedean yang dulu, haha sekali lagi prioritasmu apa? Kalo kamu cari pekerjaan gaji besar, resikonya pun besar, pekerjaan dan hidup jadi tidak seimbang pula kan? Paling maksimal kamu hanya bisa memilih dua dari ketiga pilihan itu. Lagipula selama bekerja berpatok kepada uang saja maka kepuasan tidak akan pernah terpenuhi, kebutuhan tidak akan pernah habis, uang rasanya akan panas saja, mau lagi dan lagi. Bahkan tidak sabar menunggu tanggal 24 di setiap bulannya, pekerjaan jadi sesuatu yang sulit disyukuri tapi justru dianggap beban.

Semoga, dibalik suasana Jakarta yang panas, macet, tempramen, gojek yang moodnya tak menentu, atau KRL yang berdesakan dengan ibu-ibu pns bau ketiak bisa membuat saya merasa beryukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mencari jati diri saya, sampai pada akhirnya saya akan merdeka dan dengan bangga mengatakan "saya pernah berjuang mencari, menemukan dan menjadi diri saya seutuhnya". Ada dua sisi yang bisa kamu petik dari kota besar ini mau menjadi manusia serakah atau manusia yang bersyukur, saya belajar untuk tidak menghitung apapun yang saya lakukan dan saya dapat di sini, rezeki sudah ada yang membagi, impian sudah Tuhan simpan, tinggal usaha dan terus meminta dengan tulus, Ia ada.



Mari kita pergi menjual khawatir, barangkali menukarnya dengan riuhnya guguran daun yang dihembus angin. Ayo kita gadaikan kecemasan hingga habis dan tidak membiarkannya kembali. Berlarian dan memerdekakan diri. Menculik kebebasan dan merebutnya.
Hingga tarian kita bersatu dengan semesta. 
Hingga jingganya senja memendar di hati kita.
Selamat berjuang, pencari jati diri!
Sulit menjadi orang lain, jadi temukanlah dirimu sendiri.


Salam sayang,



Anastasia Laurensia Barutu


Jakarta,
2.5.2017

LIFE


Me: I'm finally happy.
Life: Lol, wait a sec.

Pencarian saya belum selesai. Saya harus siapkan sabuk pengaman lagi. Kereta luncur ini mesinnya harus diperbaiki, lalu melaju lagi. Saya mengalami kegilaan yang tidak bisa lagi dipendam terlalu lama. Seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, seperti kesedihan yang berlarut-larut, seperti tersesat di hutan gelap gulita, penantian dan patah hati berulang-ulang, seperti ingin dilahirkan kembali hanya untuk mengulang langkah kecil lalu merangkak lalu berlari lagi.

Berjalan dengan amarah pada diri sendiri karena kerap salah jalan dan salah tikungan. Membenci diri sendiri karena sedemikian tidak dewasanya dan selalu melakukan banyak kesalahan di sana sini. Lalu satu hal yang jadi penyakit, lupa untuk selalu bisa bersyukur. Rasa-rasanya memang rasa syukur yang membuat setiap orang bisa melangkah setelah bangun di pagi hari, melangkah lagi ke luar rumah, melangkah lagi melakukan aktivitas, dll. Saya gagal bahkan baru beberapa bulan. Saya keluar dari pekerjaan, tanpa tempat cadangan yang berarti. Saya kalah memaknai pekerjaan saya.

Sering saya berpikir, mengapa saya tidak bisa menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti orang lain. Ya, seperti orang normal biasanya yang bekerja kantoran, lalu menikah, lalu kawin, lalu beranak, lalu tua, lalu pesan tanah untuk kuburan diri sendiri. Sesederhana itu. Seharusnya saya berjalan lurus saja seperti orang lain biasanya. Seperti apa yang telah digariskan oleh Sang Esa. Atau harusnya saya bertanggungjawab penuh, tidak perlu keseringan marah-marah dan bersedih karena saya sendiri yang memilih jalan berbelok ke sana. Manusia seperti saya tidak punya kemampuan menebak saya di track yang benar lurus, atau saya sedang cari ulah untuk berbelok layaknya musafir di padang pasir yang terpana melihat ada sumber air padahal itu semua cuma fatamorgana. Saya sendiri yang memilih untuk mencari jalan lain, jalan lain yang penuh liku. Lalu akhir-akhir ini menyalahkan diri menjadi kegemaran tersendiri, saya yang sebegitu keras kepalanya tidak mengambil jalan biasa saja seperti orang kebanyakan. Saya tidak  bermain di garis aman. Saya bermain bahaya, takut terbakar namun coba-coba memegang percikan api.

Saya benci dibilang idealis, entah kenapa kata-kata idealis menjadi momok seolah-olah saya lah yang paling terlambat tahu bahwa hidup itu harus realistis segalanya terukur dengan jelas. Saya tahu, mungkin kalian lah yang tidak tahu cara saya mengukur apa yang disebut banyak orang realistis. Pun saya bukan sedang dimabuk mimpi tanpa arah, justru sejak hari itu saya kehilangan arah mencari diri saya sebenarnya ada di mana.

Hal tersulit adalah menjadi orang lain. Sama halnya saya yang sedang berperang menjadi orang lain itu. Lumayan lelah menghadapi asumsi atau penilaian orang lain atas keputusan yang saya ambil. Mungkin buat mereka..

Seharusnya kamu menyerah saja punya mimpi-mimpi soal pekerja sosial. Zaman seperti ini jadi pekerja sosial? Menolong diri saja tidak bisa. Dunia ini diperlukan uang bahkan dalam menolong orang lain. Sudahlah itu hanya akan buang-buang tenaga membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi. Hanya sebagian manusia yang bisa mengubah manusia menjadi lebih baik, kamu bukan salah satunya. Lebih baik memikirkan diri sendiri dan mencoba bertahan untuk hidup untuk memenuhi kebutuhan. Bkerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Sudahlah.

Seharusnya kamu menyerah saja mau membuka usaha sendiri. Tidak balik modal. Daganganmu tak laku, lihat berapa pengunjung yang datang hari ini? Kamu sudah kalah dari segi apapun. Sudahlah tutup saja dan bekerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Dapat gaji pasti setiap bulan tidak perlu khawatir hari ini ada pengunjung atau tidak, pasaran bagaimana, sudahlah. Lihat kau akan banyak merugi berniat memutar tabunganmu sendiri namun tidak mendapatkan apa-apa.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi penulis atau sutradara. Idemu habis dimakan nyamuk di meja kerjamu. Inspirasimu itu-itu lagi, berjam-jam hanya meratap saja yang didapat. Dan lihat, siapa juga yang membaca tulisanmu? Blog? Oh ya? Memang ada yang berkunjung dan membaca? Sudahlah lebih baik kamu menyerah saja. Tulisanmu tidak ada yang baca, alur ceritamu membosankan, gaya penulisanmu tidak menarik dan tak pernah juga kan ikut lomba karya-karya mutakhir itu? Sudahlah buat apa jadi penulis? Membuang-buang waktumu saja.

Sekeras itu bisikan masuk kuping kanan dan kiri, dari mana saja bahkan dari rumah yang saya huni. Seolah saya tidak akan mampu untuk meraih keinginan apapun itu. Keinginan saya akan menjadi lucu setelah ini, menjadi lelucon di siang hari untuk orang-orang keluar dari perusahaan besar hanya karena terlalu lemah menghadapi realistisnya hidup. Tidak banyak yang paham bahwa hidup memang sebuah pencarian, terus berusaha, mencoba untuk menemukan pintu yang memang khusus dibukakan untuk diri sendiri. 

Saya pun belum tahu pasti sampai di titik mana semua ini akan berhenti dan menjadi menyerah pada keadaan. Lalu saya akan menjalani hidup yang mereka bilang titik aman itu. Memang hal yang tersulit adalah untuk memutuskan berhenti dan tidak lagi mencoba. Adalah posisi di mana melepaskan dan meninggalkan suatu hal menjadi sebuah awal dan akhir dalam sebuah perjalanan seseorang, dan tidak akan disentuh lagi. Kamu tidak akan mati apabila melepaskan mimpimu namun kamu tidak akan hidup. Mungkin kamu berada di ketiadaan. Kamu tidak mati dan tidak hidup. Kamu di tengah-tengah saja, suam-suam kuku, tidak panas tidak dingin. Dan kamu akan mulai kehilangan makna sendiri. Duh, Gusti.

Memutuskan keluar dari pekerjaan pertama membuat saya berpikir apa iya semua orang yang biasa tadi sebenarnya seperti saya, tidak nyaman dan merasa salah tempat namun hanya ada tiga manusia; saya, manusia yang merasa tidak pas dengan tempatnya namun bertahan karena realistis tadi, atau yang benar-benar beruntung di tempat yang tepat. Saya tak bisa sebut manusia yang merasa seperti saya adalah yang beruntung atau tidak, sayang kawan hidup kita seperti lampu jalanan terang repot, kadang dia bersinar kadang redup karena cuaca buruk mengganggu nyala bohlam lampunya.

Pencarian tidaklah benar-benar selesai, pergulatan tidak akan pernah berakhir, ketakutan tidak akan pernah pudar, penantian akan berganti menjadi sebuah kebiasaan menanti. Namun butuh kaki yang terus berjalan. Diri yang terus berusaha, terus berjuang, terus bertahan. Hingga hati teruji.

Maka akan ada malam hari yang menjadi sebuah ruang diri untuk merancang, merencanakan, menulis hari depan. Bukan lagi malam yang menjadi sebuah teman dan hantu yang mengintai ketakutan akan fajar di pagi hari. Ketika menjadi dewasa artinya adalah bertanggung jawab atas hidup sendiri, atas segala pilihan, atas segala konsekuensi yang ada, atas segala nafas yang dihembuskan. Di suatu malam yang kesekian, kembali berhadapan dengan diri sendiri, apa lagi yang mau disangkal? Ke mana lagi bisa melarikan diri dari isi kepala sendiri yang riuh? Bagaimana lagi bisa menyelipkan kelegaan di sana? Kecuali saya yang pada akhirnya mengikuti kata hati dan menjawab semua pertanyaan saya sendiri. Hingga yang ada hanyalah waktu yang bergulir. Dan tanpa disadari alunan hidup mulai mampu membuat saya menyelam ke kedalaman, bermain gembira dengan segala arusnya.

Lalu, seberapa banyak keteguhan hati yang harus saya investasikan untuk sebuah keinginan dan mimpi? Belum terukur, tak bisa dibuat realistis. Kalau bisa, sial lah saya terbelenggu sampai kapanpun.





Bandar Lampung,
08/03/2017