Revolusi Basa-basi #1: Just The Beginning


Hai. Sebelum membaca tulisan ini saya mau mengingatkan bahwa tidak semua yang kamu baca bisa kamu serap semuanya, harus pakai pertimbangan sana-sini. Dan tulisan dengan tag Revolusi Basa-basi ini adalah sebuah diary belajar saya. Kenapa Revolusi Basa-basi? Karena saya siapa yang tak mau melakukan perubahan apalagi mengarah ke hal yang lebih baik? Impian saya untuk memancungkan hidup saya masih sedang dalam perjalanan, belum menemukan garis finish di mana bisa mengangkat dagu dan memakai kacamata hitam sebagai bentuk bahwa betapa kerennya hidup saya. Perjalanan ini masih abu-abu dan masih harus dicari jawabannya dengan banyak-banyak belajar, merasa dan membaca. Saya rasa harus saya tuliskan agar saya punya catatan sendiri untuk berkumpulnya semua mimpi, niat, dan harapan. Lalu suatu hari nanti ketika saya sudah tua dan gemetar bisa saya buka lagi dan menertawai diri sendiri betapa bodoh dan naifnya saya di masa lalu 😁


***

Selain pembaca, alam pun tahu bahwa menulis adalah komitmen dan judul dari curhatan saya ini terlihat seperti; "hmm..lagi-lagi ngeles nih yee". Tapi ah, maafkan. Saya kira menulis menjadi komitmen yang lebih susah dari mempertahankan IPK untuk mahasiswa rantau, atau lebih susah dari komitmen mau kurus, mungkin juga lebih susah dari berjanji untuk tidak beli chatime lagi setiap menemukan gerainya. Memang seseorang pun dapat dikatakan harus profesional dalam hobinya, katanya jikalau sungguh-sungguh ingin menjadi profesional harus mengerjakannya terus menerus sehingga kelihatan hasilnya. Tapi itu kan buat orang lain (mencoba membela diri), hingga akhirnya saya memutuskan bahwa menulis bukan lagi soal profesional atau tidak tapi ya semacam hasrat yang selalu ada. Tergantung mau menuangkannya dalam sebuah tulisan dan dibagikan atau tidak hanyalah perkara pilihan si penulis. Mungkin kebanyakan orang menulis karna meluapkan isi hatinya, saya justru kebalik; Saya menulis untuk mendengarkan suara hati saya.

Daripada akhirnya saya menuliskan panjang lebar pembenaran mengapa sudah lama tidak menulis lagi hehe, kali ini saya benar-benar mau menemukan suara hati saya. Betapa waktu sulit sekali dibagi. Semakin bertambahnya usia, saya semakin selektif merelakan waktu istirahat saya. Semasa kerja apalagi di Jakarta, membuat saya lebih memilih leha-leha di kosan setelah jam kerja yang melelahkan setiap minggunya. Padahal akhirnya saya bekerja dengan sistem 2 in 2 off, namun tetap saja saya tega memangkas kegiatan makhluk sosial seperti bertemu teman, bermain, memperluas networking. Ya Begitulah.

Sebulan lalu, saat berada di Bekasi tiba-tiba saja dalam posisi dari duduk ingin berdiri ada rasa sakit yang menyiksa di bagian punggung belakang. Hitungan detik saya panik, kalut, dan bingung harus berbuat apa. Saya tidak bisa berdiri tegap, sambil terbungkuk saya memegang tembok untuk mencoba berdiri . Gila, setelah 5 tahun ini baru kali ini sakit bekas jatuh sampai separah ini. Selama 7 hari lamanya saya susah berjalan, bahkan bersin atau batuk pun terasa nyeri sekali. Ironinya, bahkan tertawa pun tidak bisa, ada tekanan atau guncangan sedikit saja rasanya membuat saya sulit bernafas. Terbaring dengan lemah bahkan tidak berpikir lagi untuk makan, mandi atau beraktivitas lain. Rasanya ingin diam saja, tidak bergerak. Dalam rasa sakit saya sadar, saya adalah manusia yang sudah sampai pada batas-batas kekuatan tubuh. Bahwa saya ini manusia bukan mesin. Bukan melulu harus menghasilkan, ada kalanya diam.

Satu bulan lamanya saya jadi berpikir, mungkin sudah waktunya istirahat dulu dan tidur yang benar-benar tidur. Lalu di setiap harinya dengan kondisi gerakan yang terbatas, saya sadar betapa hidup itu sangat berharga. Hampir setiap malam saya kesulitan tidur selain karena menikmati rasa sakit bahkan dengan posisi tidur, saya berbisik sendirian saat rasanya hidup sungguh menyebalkan dan menguji kesabaran setiap harinya, saya sering kali berpikir; Apakah mati saja akan lebih enak? 

Lalu kemarin saat sedang duduk makan, nyeri itu pun masih juga ada. Kadang sampai sulit sekali untuk membungkuk atau jongkok, rasanya menjalar ke kaki kiri sampai ketika jalan pun terasa sekali tidak enak berjalan karna kaki kiri seperti berat sebelah. Betapa untuk berdiri atau berjalan pun saya berkerja keras untuk tetap semangat bergerak. Mati juga bukanlah jalan yang dapat menyelesaikan masalah dan segala persoalan hidup. Saya jadi merenungi bahwa bisa saja kemarin itu saya tiba-tiba lumpuh tidak bisa berjalan lagi seperti beberapa penderita sakit yang sama melalui hidupnya dengan keadaan tidak bisa berjalan lagi, namun ternyata Tuhan tetap menjaga jiwa dan tubuh saya. Bukankah terkadang kita menganggap enteng akan hidup dan nafas itu sendiri? Seperti semua itu cuma-cuma milik manusia. Padahal jiwa jelas bukan milik manusia.

Sempat saat saya sedang lemasnya di kamar dan betapa inginnya saya makan namun harus beli keluar kosan, namun saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa selain menangis. Sendiri sekali rasanya. Dan saya pun jadi merefleksikan bahwa mungkin benar kita dapat melihat ketulusan sebuah hubungan sahabat dan keluarga saat kita sedang terbaring sakit bukan pada saat badan masih sehat dan bersenang-senang. 

Barangkali penyakit ini adalah sebuah kesempatan untuk merefleksikan banyak hal dan melihat lebih dalam lagi akan banyak hal, juga banyak belajar bersabar. Mengevaluasi hidup saya dan memutuskan beberapa hal yang krusial dan baik untuk hidup ke depannya. Mencoba mengalah untuk percaya pada yang Kuasa bahwa mengambil rehat sejenak bukanlah sebuah kegagalan. Tadinya begitu iri saya melihat teman-teman yang bisa dengan bahagianya mereka bekerja, bersosialisasi, melakukan banyak hal tanpa hambatan, menjadi diri mereka dengan cara yang maksimal. Namun saya sadar, semua orang berada pada jalurnya masing-masing, saya tidak terkecuali. Seketika saya menjadi tenang mengetahui ada yang Lebih Berkuasa di luar saya.

Dan betapa tahun-tahun berganti dan terabaikan hanya untuk menyita kewarasan seseorang agar selalu berdiri tetap di garisnya masing-masing sesuai kodratnya sebagai hamba. Tanpa perlu melirik ke kanan dan ke kiri. Tanpa perlu membanding-bandingkan kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang lain. Kalau ternyata pada akhirnya kita selalu mencatat ketidakbahagiaan. Kalau sebenarnya tidak apa-apa berusaha melangkah meski berat, meski akhirnya kamu harus menyeret langkah kaki satu dan lainnya. Meski memakan waktu di luar dugaanmu, tapi kamu tetap pada jalurmu sendiri. Tidak perlu kawatir karna kamu terjaga, asal mau melangkah! Gerakanmu tidak statis, kadang menanjak kadang turun namun kamu tetap pada jalurmu hingga pada akhirnya menang karna langkahmu sendiri!

Lalu pilihan terbaik adalah pulang, saat manusia lain pun punya urusan masing-masing, saya tak bisa merepotkan banyak orang untuk mendukung proses ini. Saya kembali ke rumah, bersama orangtua dan adik saya. Memulihkan diri sendiri sembari mencoba membuat jari-jari ini produktif kembali, ternyata menulis pun bisa jadi salah satu bentuk nyata bahwa saya bersyukur.
Saya sudah bisa duduk dan berjalan, menghirup secangkir kopi di salah satu resto junkfood kesukaan saya, menatap hujan di luar sini, memandangi langit kelabu, dan tertawa lucu sambil berdendang;

"Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui,
takkan lagi kita mesti jauh melangkah.
Nikmatilah lara,untuk sementara saja,
jangan henti di sini".



Bandar Lampung,
27.9.2017

Malaikat Tak Bersayap

Halo semuanya, izinkan saya punya cerita sedikit.
Sebagai manusia korban social media, saya tergerak untuk melakukan sesuatu. Meskipun langkah ini hanya sebuah gerakan kecil, namun saya berharap adanya dampak besar yang bisa didapat. Saya percaya setiap manusia memiliki cinta dan hasrat untuk menjadi lebih baik, entah untuk dirinya sendiri ataupun menjadi guna untuk orang lain.
Seringkali kita tidak paham bahwa sebenarnya Tuhan ada dimana-mana, kita kurang melihat ke kanan dan ke kiri bahwa sebenarnya banyak malaikat tanpa sayap di luar sana dan ada Tuhan di dalam insan mereka. Berbuat kebaikan tidak melulu harus dalam skala besar, sekecil apapun kebaikan akan berbuah terus menerus. Karna saya percaya kebaikan seperti rantai, terus tidak pernah putus.
Saya berkenalan dengan saudara Aldi RayFaldo seorang anak muda yang menemukan Nenek Gentian Berutu.

Berikut kisahnya yang saya repost.


"Astafirullah ya Allah,

Kemarin ketika saya sampai di Medan,orang tua saya langsung memberitahukan kepada saya,bahwa ada seorang wanita yang sudah lanjut usia,yang sangat layak untuk dibantu.

Dan malam ini,saya beserta ibu saya menyempatkan untuk melihat langsung kondisi wanita tersebut.
Wanita tersebut bernama Nenek Gentian Brutu.
Beliau tinggal sendirian didalam sebuah gubuk kumuh di dalam lahan jagung.
Beliau menumpang di lahan tersebut,dan mendirikan sebuah gubuk untuk tinggal.
Namun belakangan ini,pemilik lahan sudah menyuruh beliau untuk pindah,dikarenakan lahan tersebut akan dibuat perumahan.
Sekarang beliau tidak tau akan menetap dimana.

Bagi kalian yang ingin menyisihkan sedikit rezeki untuk nenek ini,bisa melalui saya atau langsung datang ke tempat nenek tersebut.
Kami sudah menanyakan kepada beliau,apakah ingin dibuatkan rekening sendiri untuk penampungan dana,namun beliau bilang tidak perlu,karena beliau buta huruf dan tidak mengerti cara menggunakan bank.

Beliau mengamanahkan pengumpulan dana donasi kepada saya.
Seperti biasa,semua dana yang masuk akan saya informasikan secara transparan dan akan diserahkan sepenuhnya kepada nenek tersebut.
Nenek tersebut berkata,ingin sekali menyewa sebuah rumah.
Marilah kita saling bantu-membantu untuk mewujudkan impian beliau.
Karna tempat tinggal beliau yang sekarang jauh dari kata layak.

Bagi yang mau berdonasi,silahkan.
Semoga amal kebaikan anda dibalas oleh Allah berkali-kali lipat.
Bagi yang tidak ingin berdonasi,tidak apa2.
Tidak perlu susah payah untuk berkomentar yang negatif.
Jangan halangi sesorang untuk berbuat kebaikan.

Jika anda tidak percaya melalui saya,bisa langsung ke alamat nenek tersebut di Simpang Melati,Jalan Flamboyan Raya,Gang Ikip,Kelurahan tanjung selamat, kecamatan medan tuntungan.
Atau jika ingin saya antarkan kerumah nenek tsb,bisa langsung kerumah saya di Jln Flamboyan 10,Gang Batak,Kelurahan Tj Selamat, Kec Medan Tuntungan.
Bagi warga medan dan sekitarnya,saya harap anda bisa menyempatkan diri untuk datang langsung ke lokasi untuk melihat kondisi kehidupan nenek tersebut dan memberikan langsung bantuan tanpa melalui saya.

Bagi yang diluar kota,yang ingin berdonasi bisa ke rekening dibawah :

Bca
7870456616 a/n ALDI RAYFALDO PUTRA

Bri
532201010501532
ALDI RAYFALDO PUTRA
Donasi ditutup tanggal 10 agustus 2017.
Semoga rezeki kita dilimpahkan oleh yang maha kuasa, Amin 😇



Saya mengajak Bapak, Ibu, Kakak, Adik, dan teman-teman sekalian untuk sudi membantu makhluk Tuhan juga ini dalam bentuk APAPUN, baik itu moral maupun materiil. Terutama saudara-saudara sekalian yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara.



Saat ini Inang kita ini sudah diberikan bantuan oleh tim @tnbgpedulisesama yaitu uang sebesar 5.000.000 rupiah untuk dapat mengontrak rumah tidak jauh dari Ia ditemukan selama 1 tahun. Namun dengan perabotan seadanya, kasur dan bantal seperti itu sangat besar harapan saya kita bisa memberikan Inang kita ini kompor, peralatan masak, kasur yang layak, beras, dan perabotan rumah sederhana untuk bisa digunakan oleh Beliau dengan baik.

Bagi yang ingin berdonasi langsung bisa transfer dan sertakan bukti transfernya ke saudara Aldi Rayfaldo Putra sendiri akan secara transparan dilakukan laporan uang dibelikan untuk apa saja.
Bagi yang ingin main kesana dan memberikan bantuan secara langsung bisa datang ke rumah Inang ini di:
Alamat lengkap Penggalang Dana
atas nama ALDI RAYFALDO PUTRA
Jalan Flamboyan 10,Gang Batak No. 1,Kelurahan Tj Selamat,Kec Medan Tuntungan.


“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” 






Bandung,
4/8/2017

Langit Tidak Pernah Bilang bahwa Ia adalah Langit

Saya tidak lagi mau meminjamkan ruang tamu saya untuk siapa pun yang singgah. Tidak ada lagi sapaan ramah yang mempersilakan siapapun masuk dengan derit kursi yang bergeser seakan saya menawarkan tempat duduk seperti biasanya, atau menawarkan gelas-gelas kopi dan teh yang telah diseduh berulang-ulang. Layar televisi yang terus menyala sedangkan berita hanyalah itu-itu saja, semacam udara kosong dengan alur yang sudah kita mengerti. Setiap helaan nafas adalah kemerdekaan saya karena telah saya miliki seluruh oksigen untuk diri saya sendiri. Berdebat dengan ke-aku-an dan pemahaman yang bertumpuk-tumpuk. Saya yakin ada beribu diri saya di dunia ini yang juga mengulangi kebiasaan ini. Hanya aku dan diriku. Tidak ada yang membedakan.

Saya bisa jamin sesuatu..
Kamu tidak akan mampu membayar sebuah kecukupan dan bergegas berkemas untuk pergi. Tidak ada tempat lain selain di sini. Kesederhanaan ini membawa saya pada sebuah arti hidup bahwa hakikat manusia adalah berusaha. Usaha saya masih terus berjalan, kadang mungkin sesat arah, kadang mungkin mulai mau menyerah, tapi itulah hidup layaknya sabda Einstein

"Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” 

Namun, kelelahanku sudah menguap dan hanya pertahanan yang tersisa. Tidak lagi mendamba sebuah titik temu. Barangkali inilah harga yang harus dibayar untuk segala kebebasan yang enggan untuk diikat. Selalu berlarian dan tidak ingin menetap. Melakukan semuanya dengan pengulangannya yang lembut, senyum yang tenang, dan nafas yang teratur. Apakah ada kebebasan yang betul-betul bebas tanpa ada belenggu yang mengikutinya?

Akhirnya saya pun harus bersabda juga soal ini..

Manusia mana yang berhak untuk menimbang besar atau kecilnya iman manusia lainnya? Atau teriak lantang menilai iman manusia lain baik atau buruk? Keyakinannya benar atau tidak benar. Siapa? Pertemukan saya dengan dia!

Mungkin manusia itu sudah beberapa kali pulang pergi dari Surga ke Bumi, Nyawanya ada 9, punya kekuatan menghilang, atau barangkali dia adalah wakil dari Sang Pencipta.

Saya muak dengan segala penghakiman, betapa manusia mudah sekali berbicara hal yang dianggapnya benar dengan tanpa menginjak pemahaman orang lain, atau setidaknya jangan ada ucapan tidak akan ada selamat kalau bukan agamanya yang ini karna agama lain sesat, tidak ada keselamatan. Setahu saya, Tuhan itu Mahabaik. Lupa ada poin "berusaha"? Yang menjamin keselamatan saya tentunya yang menciptakan Saya, bukan orang-orang yang merasa bermartabat dalam ilmu agamanya namun sikapnya nihil. Mantan pembunuh sekalipun kalau setelah itu dirinya berbuat baik dan bermanfaat untuk sesama akan lebih punya nilai plus dibandingkan orang-orang yang menggurui orang lain namun tidak melakukan banyak hal yang bermanfaat untuk keluarga, lingkungan sekitar, terutama untuk dirinya dan Tuhannya.

Buat apa kalau cuma duduk sibuk dengan media sosial, mengkritik ini-itu tapi TIDAK MELAKUKAN APA-APA untuk sebuah perubahan yang baik. Parahnya lagi apabila lebih suka mengikuti perkembangan hidup orang lain atau menuntut sebuah perubahan namun pada akhirnya enggan memilih dirinya untuk menciptakan suatu perubahan.

Sialnya, banyak manusia yang sok tahu di negri ini. Ada beberapa tipe manusia di Indonesia ini:
  1. Orang yang merasa keyakinannya benar, menyebarkan kebenaran dengan pemahamannya lalu menginjak keyakinan orang lain. Seolah-olah hanya pada kaumnya lah ada keselamatan, orang seperti ini pada akhirnya bergaul dengan mengkotak-kotakkan dirinya di antara orang lain. Menghakimi iman orang lain, menimbang seberapa besar atau kecilnya iman seseorang, segala yang di luar pemahamannya adalah tidak benar. Sekali lagi, hanya dirinya lah yang dianggapnya benar.
  2. Orang yang merasa keyakinannya benar, segala hidupnya untuk agama. Seluruhnya! Namun lupa hakikat dalam beragama, main tangan pada suami/istrinya, menjadi orang yang tamak, tidak pernah menolong orang lain, tidak pernah bersedekah, suka sekali membandingkan menyalahkan sikap orang lain karna tidak sesuai dengan prinsip yang ia anut. Tipe seperti ini cenderung menjadi guru/hakim di tengah masyarakat, jangan kau sangsikan ilmu agamanya. Dia lah yang paling jago dalam paham-paham agamanya.
  3. Orang baik yang diam. Masih banyak orang baik di negri ini, namun banyak yang memilih diam. Tidak bersuara, seakan dirinya hanyalah numpang hidup saja, main aman di negri ini namun tetap menuntut perubahan dengan tidak mau memulai perubahan tersebut.
  4. Mungkin masih banyak tipe lainnya.. memikirkan 3 saja nafas saya sudah berat.
" Langit tidak pernah bilang kan bahwa Ia langit? "
Maka dari itu tolong..
Berhentilah menuntut perubahan namun menyuruh orang lain yang melakukan perubahan itu! Why not asking yourself before you judging someone's life, someone's faith. Nobody does, except our GOD who's create this earth, a testing place not a resting place.

Kesedihan saya akan selalu begini, betapa saya terkejut iman saya ditimbang, sikap saya dikait-kaitkan dengan masalah yang ada. Saya dihakimi secara keseluruhan, yang tahu kekuatan iman saya adalah saya dan Tuhan saya saja. Bukan kamu, yang menilai saya secara cepat dan berasumsi bahwa pemikiran saya sesat. Orang tua saya sekalipun tak berhak, apalagi kamu? Keyakinan yang saya anut adalah kepercayaan buat saya kepada Sang Pencipta bahwa saya sedang berusaha menuju kesana, dengan belajar dan belajar setiap harinya, berusaha melakukan segalanya sesuai kehendak-Nya. Hidup saya ada di tangan Tuhan, bukan di tangan kamu. Bukan lewat aturan kamu hidup saya menjadi benar. Bukan.

Banyak orang membabi buta terhadap keyakinannya, lupa bahwa Tuhan tak perlu diingatkan, Tuhan tak perlu dijanjikan apa-apa, Tuhan tidak perlu dibela, Tuhan tidak suka dibanding-bandingkan (justru dengan mulai membandingkan, kita mulai egois bukan?)
Tidak ada yang bisa menjamin apa yang kita lakukan benar selain Ia yang Maha Melihat, selama kita usaha, usah, usaha menjadi yang terbaik sesuai kehendak-Nya pasti keselamatan itu ada, apapun keyakinanmu, apapun agamamu, apapun yang kamu anut. JADILAH BERMANFAAT!

Demikianlah ageman saya, punyamu mungkin lain lagi saya tidak peduli namun pasti saya hormati.

Saya, yang hidup beragamanya kamu anggap kurang..

Jakarta,
14.5.2017

Belajar Menghela Nafas di Jakarta

Ada seorang perempuan yang semasa kuliahnya gentar berteriak "Gak akan pernah aku tinggal di Jakarta, apalagi kerja di sana." Well, she deserve it. Me, in Jakarta now.

J A K A R T A

Setelah 6 bulan bekerja di bendera perusahaan besar ternyata serta merta tidak membuat saya bahagia seutuhnya, betapa bekerja pun merupakan sebuah perjalanan pencarian jati diri dan saya rasa sudah saatnya saya berpindah. Saya tidak menemukan apapun di sana, kamu boleh bilang 6 bulan adalah waktu yang terlalu dini untuk keluar mencari pekerjaan yang lain lagi. Namun sudah cukup saya memakai 6 bulan saya untuk akhirnya menyadari sesuatu yang dijalani setengah hati lebih baik tidak perlu dijalani lagi sebelum akhirnya banyak waktu lagi yang hilang untuk menjalani dunia yang kita tidak senangi. Namun terlepas dari itu, saya merasa sangat bersyukur bisa belajar dan berkarya di sana, banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya ambil dan saya pakai di masa depan kelak. Teruntuk perusahaan yang sudi menerima, mendidik, melepas, serta mengabulkan permohonan resign saya, saya ucapkan terimakasih banyak.

Pelajaran berharga dari proses ini adalah, ketika kita fresh graduate memang sedang proses yang sangat menggebu-gebu untuk mendapatkan pekerjaan. Selain untuk alasan bertahan hidup, rasa-rasanya memang layak lah setiap fresh graduate mendapatkan pekerjaan karena kuliah sudah bayar mahal-mahal, kuliah susah-susah dengan segala tugas dan tanggungjawabnya, belum lagi citra sebagai mahasiswa tidak mau jadi pengangguran atau beban negara. Namun, ternyata memang tidak semudah itu. Sialnya kita tinggal di negara dimana setiap tahunnya semua universitas banyak menampung jumlah lulusan baru yang pada akhirnya lowongan pekerjaan tidak sebanyak itu.
Fresh graduate pun masih mencari-cari identitasnya dalam bekerja, tergantung prioritasnya apa dulu;

  1. Mau salary besar?
    Jawaban: Lamar lah pekerjaan di perusahaan superior seperti rokok, atau industri luar persetan dengan perusahaan tersebut bergerak di bidang apa.
  2. Mau mencari jenjang karir yang baik?
    Jawaban: Lamarlah perusahaan retail, FMCG, manufaktur, properti, dll.
  3. Pekerjaan dan hidup yang seimbang? Lamarlah ecommerce, bank, dll.

Mau ketiga-tiganya? JANGAN HARAP. Kalau mau ketiga-tiganya diraih dengan baik, berwirausahalah. Jadi enterpreneur.


Tapi saya gak sejago itu tahu bagaimana cara menjadi enterpreneur, saya juga lagi cari-cari cara bagaimana caranya menjadi bos sekecil apapun usaha yang saya punya, memberi pekerjaan orang lain, mengatur jadwal bekerja dengan baik, membuat suasana perusahaan kecil saya menjadi asyik dengan menjadi owner yang ramah kepada seluruh karyawannya. Mungkin ini lah yang dirasakan oleh Kolonel Harland Sanders, Larry Page, Garret Camp, Achmad Zaky. Mungkin nanti akan ada tulisan "bagaimana menjadi enterpreneur" ditunggu saja :p

Bukan berarti pekerjaan sebelumnya tidak baik, pekerjaan sebelumnya sangat baik tapi saya seperti terjebak di dalam ambisi yang membutuhkan orang-orang yang menggilai materi. Rasa bosan membuat saya mencari peran, bahwa tempat saya bukan di sana, mungkin kamu yang cocok di sana, mungkin Si itu, Si ini, siapapun. Cuma si itu dan ini belum berjodoh saja menemukannya atau belum menemukan keberanian untuk melamar di sana. Beda dengan saya, sudah terjun namun tidak pas. Banyak yang bilang saya manusia yang tidak bersyukur, menepis rezeki, dll.


Hmm.... whatever, is not easy to run somebody's life, right?


So, here I am in Jakarta.
Saya kerja di salah satu e-commerce di Jakarta, memang keadaan saya sedang mencari pekerjaan dan hidup yang seimbang. Beruntungnya tidak lama dari tanggal resign saya sudah mendapatkan pekerjaan lagi, memang dari dulu impian saya bisa kerja di e-commerce lingkungan anak muda kreatif yang menumbuhkan semangat hal baru setiap harinya, karna lebih baik rasanya bangun dari tempat tidur tanpa tahu apa yang mau dilakukan hari itu daripada bangun dengan sudah tahu apa yang mau dilakukan. Dan satu lagi.. TIDAK MEMBAWA PULANG PEKERJAAN KE RUMAH hahaha. 

Kalau orang tanya wah gajinya lebih kecil dong? Kan gedean yang dulu, haha sekali lagi prioritasmu apa? Kalo kamu cari pekerjaan gaji besar, resikonya pun besar, pekerjaan dan hidup jadi tidak seimbang pula kan? Paling maksimal kamu hanya bisa memilih dua dari ketiga pilihan itu. Lagipula selama bekerja berpatok kepada uang saja maka kepuasan tidak akan pernah terpenuhi, kebutuhan tidak akan pernah habis, uang rasanya akan panas saja, mau lagi dan lagi. Bahkan tidak sabar menunggu tanggal 24 di setiap bulannya, pekerjaan jadi sesuatu yang sulit disyukuri tapi justru dianggap beban.

Semoga, dibalik suasana Jakarta yang panas, macet, tempramen, gojek yang moodnya tak menentu, atau KRL yang berdesakan dengan ibu-ibu pns bau ketiak bisa membuat saya merasa beryukur bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mencari jati diri saya, sampai pada akhirnya saya akan merdeka dan dengan bangga mengatakan "saya pernah berjuang mencari, menemukan dan menjadi diri saya seutuhnya". Ada dua sisi yang bisa kamu petik dari kota besar ini mau menjadi manusia serakah atau manusia yang bersyukur, saya belajar untuk tidak menghitung apapun yang saya lakukan dan saya dapat di sini, rezeki sudah ada yang membagi, impian sudah Tuhan simpan, tinggal usaha dan terus meminta dengan tulus, Ia ada.



Mari kita pergi menjual khawatir, barangkali menukarnya dengan riuhnya guguran daun yang dihembus angin. Ayo kita gadaikan kecemasan hingga habis dan tidak membiarkannya kembali. Berlarian dan memerdekakan diri. Menculik kebebasan dan merebutnya.
Hingga tarian kita bersatu dengan semesta. 
Hingga jingganya senja memendar di hati kita.
Selamat berjuang, pencari jati diri!
Sulit menjadi orang lain, jadi temukanlah dirimu sendiri.


Salam sayang,



Anastasia Laurensia Barutu


Jakarta,
2.5.2017