Sejati

Sejak bertengkar dengan kenangan-kenangan selewat, aku tidak pernah lagi bisa percaya pada cinta yang sejati. Pun untuk mengenang hal yang baik-baik darinya, buatku masih omong kosong saja. Apa yang sudah terjadi sebelumnya, pada akhirnya hanya memperpanjang kontrak trauma yang belum pernah selesai dan malah membuatnya semakin menjadi dan beranak pinak.

Entah,
pantaskah aku untuk diperjuangkan dan menjadi alasan tujuan seseorang untuk pulang?
Rumah yang layak kah aku untuk dihuni dalam suci maupun cela, untung maupun malang, suka maupun duka? Dijaga mungkin?

Yang ku tahu baik dan buruk ada pada satu rumah mana bisa dipilih dan ditakar seenaknya, lalu yang terjadi justru setiap siapa saja yang datang bisa seenaknya pergi tanpa meninggalkan akhir yang baik. Aneh rasanya, susah payah menuliskan sesuatu untuk bisa mendapatkan arti lalu dihapus begitu saja tanpa memberikan aba-aba apapun. Tidak berjejak, yang tertinggal hanya goresan tidak bermakna dan harus segera dibuat lupa.

Sial,
Masih belum terpejam juga di dini hari seperti ini, padahal tidak minum kopi.

Delapan bulan,
Disiksa kebingungan untuk menerka dan menyimpulkan segala emosi entah harusnya menjadi apa
Kehadiran sebulan lalu kupikir membuatku semakin jelas tetapi justru semakin bingung
Kupikir Ia datang untuk mengubah keputusanku yang mau berganti pergi,
tapi Ia justru berhasil sekali untuk menyudahi semua yang benar-benar selesai
Lugunya aku yang berpikir manusia bisa menjadi baik lagi, haha

Aku pernah semangat sekali berdoa semesta tidak mempertemukanku dengan orang lain karena aku maunya Ia saja, tapi bisa apa aku kalau ada yang lebih baik darinya?
Yang tidak pernah janji, tapi tidak pernah pergi
Yang tidak banyak bicara, tapi tidak pernah pura-pura
Yang tidak pernah mengangankan banyak hal terlalu tinggi tapi selalu di sini

Pulanglah,
Kau tahu aku tidak mungkin menyayangimu lagi kan?

Tapi aku menutup segalanya dan tersiksa sendiri karena pernah punya harapan lebih atas seseorang yang kuanggap sejati.
Aku tidak bisa melihat hal baik apapun lagi dalam hubungan harmonis soal berpasangan.

Masih omong kosong semua.

pun ini

Jakarta,
02.05.2020

3x2 meter

Hari ini cukup dipusingkan dengan datangnya Ibu pemilik kosan yang lebih terlihat seperti oma-oma Chinese yang banyak bicara dengan segala pernyataan-pernyataan sombongnya. Siang tadi dengan keadaan belum makan apa-apa sama sekali, selepas mengurus beberapa jualan untuk dikirim hari itu juga saya bergegas kembali ke kosan menemuinya.

Sambil dengan berpura-pura senyum dibalik masker, saya menyapanya. Berbasa-basi untuk memperbolehkan saya menempati kosan di bawah yang memiliki kamar luasnya 2,5 x dari kamar saya. Negosiasi ini sebenarnya sudah berjalan dari bulan Januari, namun entah dengan alasan apa dia belum juga mau memberikannya kepada saya, sementara ada 3 orang lainnya juga yang mau mengambil kamar itu. Berulang kali saya berusaha menawar harga karena ternyata di luar dugaan, yaitu 1,45 juta dan belum termasuk listrik. Padahal dugaan awal harganya paling hanya 1,2 juta mengingat letak kosan ini bukan di pinggir jalan besar dan kamar mandinya sama dengan yang lama tidak pakai pintu, hanya tirai saja. Ia tidak juga menyerah dan bertahan dengan harga tersebut karena penghuni sebelumnya adalah suami istri yang diberi harga 1,4 juta. Saya tidak bisa menawar lagi.

Isi kepala saya dengan cepat berhitung berapa pengeluaran tambahan yang harus saya keluarkan untuk membayar biaya kosan yang sampai 28% dari total pendapatan saya per bulan. Seperti dibelah dua rasanya, ada ego dan realita yang harus saya baur menjadi satu supaya mendapatkan kesimpulan. Setakut itu saya untuk mengeluarkan uang, karena sejak pertama kali bisa mencari uang sendiri saya tidak pernah berani atau gegabah untuk menyenangkan diri sendiri dengan mengeluarkan uang yang banyak demi membeli barang-barang atau menikmati kemewahan lainnya. Sekali saja waktu itu yaitu liburan ke Kuala Lumpur dimana butuh berpikir puluhan kali sampai akhirnya jadi membuat passport dan berangkat. Kalau bukan demi mengobati patah hati, mungkin saya juga tidak jadi pergi ke luar negri seperti itu.

Setelah pusing berhitung dan ada ketakutan disana bahwa saya berharap sekali adanya pengertian dari rumah untuk tidak berharap banyak dulu kalau semisal dalam 3 bulan atau bahkan sampai akhir tahun wabah ini belum selesai, saya tidak bisa membantu banyak dulu. Saya menelepon Ibu. Berbicara banyak namun intonasi Ibu menunjukkan bahwa saya terlalu berani dan sia-sia kalau pindah di area yang sama dengan biaya lebih dari 2x lipat hanya untuk kosan yang dipakai untuk istirahat saja. Masalahnya sudah 1 bulan berjalan WFH ini dan saya cukup gila bertahan di ruangan sempit seperti ini. Sudah jelas saya tidak mendapatkan ketenangan apapun dari Ibu, hanya berakhir dengan "Terserah kakak, kan kakak yang punya uang dan bisa ngaturnya" katanya lirih sembari menutup telepon.

Makin pusing saya, mungkin faktor belum makan juga. Sambil melihat sudut kamar yang tak seberapa ini, setiap sudutnya menyiksa saya dengan kenangan yang terjadi di kamar ini. Semuanya, tawa, kemalasan, amarah, kesedihan, penyesalan, dan permohonan-permohonan semu yang pernah terjadi di tempat ini. Pun kasur yang jadi saksi bisu, saya beraktivitas seperti bekerja, depresi, makan, menangis, memohon, sakit, menyakiti, berusaha sembuh dan menjadi gila secara bersamaan di kasur ini. Mungkin apabila Ia bisa berbicara, pasti ingin sekali rasanya memaki saya manusia lemah ini yang terus saja merepotkannya dengan urusan duniawi yang menurutnya sia-sia seperti dirinya sendiri ada masanya.

Saya mencoba menelepon seorang teman, alih-alih mencari penegasan keputusan untuk pindah benar atau tidak. Segala kekawatiran saya tumpahkan begitu saja, pun reaksi Ibu saya yang mengecewakan saya yang sedang panik ini. Sampai akhirnya dia bilang, "Lu salah sya, lu berekspektasi orangtua lu bisa berubah ya ga akan bisa. Lu sadari aja apa yang depan mata ini, kalau ini bisa jadi titik untuk semua berubah jadi lebih baik, kenapa harus ragu untuk pindah? Nanti bisa kita cari pemasukan lebih keras lagi, rejeki ada aja kalau dicari, udah tenang aja". Saya cuma terdiam, seringkali saya berada di posisi tidak percaya pada diri sendiri untuk memutuskan bahwa saya layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik padahal itu semua buah dari usaha dan kesabaran yang saya jalani, mungkin saya jadi terkesan pelit pada diri sendiri dan tidak jarang berujung dengan penyesalan karena tidak lebih cepat memutuskan dan terlambat mendapatkannya. Maka sering kali, saya butuh validasi dari sahabat untuk membantu saya menyimpulkan bahwa saya layak menikmati sebuah kemewahan.

Hahh...
Sejujurnya, saya merindukan senyum dan suara sederhana itu yang meyakinkan saya tiap saya mau membeli sesuatu yang menurut saya mahal...
"Ga apa sya, dibeli aja. Nanti kamu bisa hemat lagi, kamu butuh itu.. uang bisa dicari"
Lalu dengan percaya diri saya berjalan ke kasir dengan senyum yang lebar. Mungkin Tuhan akan hadir dengan bentuk yang lain, seperti sahabat saya tadi.

Lalu saya tertawa sendiri, membayangkan mengapa saya menjadi sekikir itu untuk memikirkan kualitas hidup saya yang mungkin memang sudah waktunya untuk ditingkatkan, seperti yang dilakukan orang-orang, mendapatkan kenyamanan untuk kualitas hidup yang lebih baik lagi. Saya terlalu tertinggal untuk memikirkan urusan semacam, padahal saya pun tidak tahu menabung banyak uang untuk apa. Pun juga tipe manusia yang tidak lihai memakai uangnya untuk berinvestasi jangka panjang seperti menabung emas, saham, atau pun menyicil rumah seperti kebanyakan milenial lakukan sekarang. Saya hanya tahu menimbun uang, dan cuma punya satu tujuan: misal ada apa-apa dengan kesehatan Ayah dan Ibu membutuhkan tindakan cepat, saya punya uang yang cukup. Bodoh memang, saya masih belajar soal mengolah keuangan.

Jadilah akhirnya saya segera telepon Ibu pemilik kosan untuk konfirmasi bahwa saya akan jadi pindah, meminta segera dibereskan urusan kamar mandi yang butuh perbaikan. Lega rasanya, saya bisa membayangkan kamar itu akan saya tata seperti apa. Semoga ini bisa menjadi awal bahwa kualitas hidup saya akan jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Rasanya diri sendiri bilang;
"Nah gitu dong, biar ga sedih terus kamu tuh! Nanti kita usaha lagi ya, ga apa biar lebih produktif!" ingin memeluk diri sendiri rasanya, dan bilang maaf kalau baru seberani sekarang.


Selamat Tasya, selamat menjadi lagi.



Jakarta,
23.04.2020





Belajar Menulis

Sore tadi saya teringat 4 tahun lalu saat malam itu sehabis acara salah satu kampus di Bandung, jauh-jauh dari Jatinangor hanya untuk menyaksikan Naif karna pernah jatuh cinta menyaksikan David sang vokalis dengan nada pilunya menyanyikan Benci untuk Mencinta sambil bertelanjang dada. Pasti bukan cuma karena adegan panas itu saja tentunya, pada dasarnya saya memang suka berburu konser gratis selama berkuliah di Bandung. Memang benar kata orang, Bandung bisa menyajikan hiburan tanpa kamu harus bersusah payah mengeluarkan uang. Pantaslah orang bilang ingin sekali hidup bekerja di daerah yang suasananya seperti Bandung, UMRnya Jakarta, dan harga makanannya Jogja. Sayangnya, mustahil.

Konser itu gratis tentunya, saya cukup modal Rp 5.000 untuk naik Bus Damri dari Jatinangor karena waktu itu berangkat siang menjelang sore hari, saya berangkat bersama beberapa teman yang memang suka sekali menonton konser gratis. Sesampainya di sana, kami sempat berkeliling kampus megah itu untuk melihat-lihat tenant makanan atau pameran-pameran dari fakultas yang menyelenggarakan acara tersebut dan memang bintang tamu pasti selalu muncul di puncak acara. Setelah berjam-jam berkeliling, makan, dan tertawa bersama akhirnya kami mengambil posisi berdiri dekat panggung karena seperti tidak ikhlas rasanya sudah jauh-jauh dari Jatinangor tidak menyaksikan konser itu dari dekat. Acara malam itu diawali dengan penampilan-penampilan band indie lain, performance dari anak-anak fakultas yang menyelenggarakan, games, dll. Sampai akhirnya panitia terlihat panik mengulur waktu acara, seperti ada yang disembunyikan.

Benar saja, sampai akhirnya ada MC yang dengan berat hati mengatakan bahwa Naif tidak datang malam itu. Alasan yang mereka sampaikan adalah Naif mengalami kendala teknis di jalan menuju ke tempat konser itu, dengan berat hati beberapa penonton ada yang mundur karena merasa sia-sia dan marah sekali, ada juga yang tetap bertahan berharap panitia dan MC hanya bercanda saja. Saya dan teman-teman sempat bertahan 15 menit. Pada saat yang sama di hari itu saya terus berkomunikasi dengan seseorang yang saya kenal dari salah satu aplikasi anon (ya memang lucu pernah coba-coba aplikasi semacam), saya hanya memberi kabar bahwa saya datang ke kampusnya hari itu untuk nonton konser. Ia sempat memberikan saya informasi sebelumnya mengenai Naif yang tidak akan datang pada sore hari karena pihak rektorat melarang acara itu diselenggarakan di malam, sebabnya pengunjung acara itu sudah melebihi kapasitas, namun saya masih menganggapnya bercanda.

Saya sambil tertawa kecut berbalik badan dan ternyata benar saja, setelah menunggu beberapa menit akhirnya teman saya menyerah dan mengajak untuk pulang, mereka akhirnya memutuskan untuk mengejar jadwal travel terakhir untuk pulang. Saya memutuskan untuk menginap dulu saja di kosan teman, satu per satu teman saya pamit naik angkutan umum menuju tempat travel sedangkan saya mematung sambil bingung memikirkan bagaimana caranya saya pulang ke kosan teman di ciumbuleuit atas. Saya melapor ke kenalan saya itu bahwa benar yang Ia katakan, kedatangan saya menjadi sia-sia saja, yang ditunggu justru tak kunjung datang. Saya memutuskan untuk pulang, walaupun tak tahu caranya bagaimana, sampai pada akhirnya Ia menawarkan untuk mengantarkan pulang karna angkutan umum ke Ciumbuleuit atas sudah tidak ada.

"Aku bisa antar, tapi tunggu dulu aja di situ jangan kemana-mana. Aku ambil motor dulu di kosan teman, dekat kok di dekat kampus".

"Oke, aku tunggu depan gerbang kampusmu ya" tanggapku cepat.

Lalu, tak lama kemudian ada kenalan lain yang menanyakan kabarku bagaimana sepulang dari acara itu, karena takut ada kerusuhan pasca tidak jadinya Naif datang. Jelas saja karena diberitahu informasi begitu, rasanya mau cepat pulang saja. Dia menawarkan untuk mengantar pulang juga, karena aku kurang sabar menunggu dan tidak enak merepotkan Dia yang sedang meminjam motor temannya, akhirnya aku menolak ajakannya dengan mengatakan bahwa temanku ada yang kebetulan nonton konser juga dan bersedia memberikan tumpangan dan memilih Dia yang segera meluncur ke persimpangan rumah sakit itu. Sudah kurang sabar, berbohong pula. Maaf  ):

Kejadian itu mengingatkanku pada sosok yang kutolak itu, entah seperti apa dia sekarang. Dia adalah orang asing yang pernah kubaca tulisannya, baru kenal tapi dia mudah saja memberikan karya-karyanya yang tidak pernah dipublish dimana pun dan hendak menjadikannya sebuah buku. Akhirnya, keinginannya itu tercapai. Aku membeli karyanya itu, betul saja dia bisa melahirkan tulisan-tulisan yang membuatku berkeinginan untuk menulis lagi pada saat itu, pun seperti sore tadi saat aku tiba-tiba berpikir untuk mulai menulis lagi dan mengingat kejadian tersebut. Padahal, sampai hari ini kami tidak pernah jadi bertemu.

Seharian ini saya hanya menertawakan kejadian itu, semuanya terekam ulang betapa egoisnya saya malam itu. Banyak kata seandainya dalam kepala saya, andai malam itu tak kutolak ajakannya, andai malam itu aku memutuskan untuk berani pulang dengan caraku sendiri, andai aku tak mengandalkan siapun di malam itu, andai ponselku mati dan tidak bisa berkomunikasi kepada keduanya, andai andai andai....

Semua lamunan itu kuobati dengan melihat tumblr-nya kembali, cerita kehidupannya yang lebih banyak turun daripada naiknya membuatku bersyukur telah menjadi lebih baik setelah menghadapi berbagai macam pelik, aku sempat bertanya tentang kejadian malam itu sebagai anonymous dan Ia menjawabnya:
"Coba dipikir-pikir lagi. Lebih ingin cinta tiga tahun atau cinta satu malam? Sesungguhnya dia telah menyelamatkanmu. lol"
Membaca balasannya jelas saja aku tertawa lebar, mengartikan semua ini membuatku terlihat konyol sekali, betapa perasaan menyesal menertawakan saya dengan segala keikhlasannya. Bukan bagaimana kelanjutan saya dan dia, tetapi lebih kepada betapa naifnya saya malam itu bukan berdiri pada kaki saya sendiri. Saya yang seharusnya mungkin belum bisa menerima siapa-siapa pada saat itu, pun saya juga yang seharusnya masih dengan kesendirian untuk bertahun-tahun kemudian. Terlalu cepat rasanya, merawat hati orang lain ketimbang memelihara hati diri sendiri, rasa-rasanya ini masih akan menjadi tugas yang sangat besar.

Namun, saya menjadi lebih kuat setelah membaca tulisan-tulisannya secara tidak langsung saya yang belum pernah bertemu sama sekali dengannya, bisa merasakan bahwa segalanya sia-sia. Kenyataannya masih ada hari esok lagi yang harus diurusi dan tidak bisa hanya berdiam diri pada satu tempat lalu berharap keajaiban datang. Tidak, hidup tidak seajaib itu.


Terimakasih, nu. Saya mau belajar menulis lagi.


Salam lara, mari nikmati sisa-sisa kesedihan ini jangan sampai menciptakan sedih yang lain kemudian terlalu banyak, menumpuk, dan menjadi menyebalkan.





Jakarta,

22.04.2020

A Reminder:

This is what I want you to understand...

Just because someone told you that they loved you and didn't mean, it doesn't mean that love doesn't exist.

Just because you believed them and it wasn't true, doesn't mean that you shouldn't believe in love.

Love didn't hurt you, someone who doesn't know how to love hurts you.
Don't confuse the two.

Just because they didn't mean, it doesn't mean that there isn't someone out there who does mean it.

Who will want to love you
Who will want to say it and mean it and believe it

Don't write of love just because someone didn't know how to love you properly

and...

I know it's hard right now and it may not make sense
but there is someone out there who will say it and mean it.

#QuarantineDay32


I HATE YOU CORONA!!!!


Jakarta,
19.04.2020