The Journey Begins

10:49 PM

Nasihat ibu:
"Kita bisa mendapatkan apapun yang kita mau di dunia ini, tetapi tidak langsung walaupun lambat tapi pasti kita akan mendapatkannya. Mungkin hari ini orang lain bisa beli handphone bagus, kalau kita mungkin bulan depan atau dua bulan lagi tapi nilainya PASTI, atau mungkin orang lain bisa beli baju baru 10 kita cuma dua, tapi kita bisa beli. Tidak ada yang terlambat"

Saya dan adik saya selalu ingat, bagaimana kami selalu mendamba memiliki sesuatu secara cepat tapi nyatanya kami harus menunda atau mengulang dua-tiga kali untuk mendapatkan sesuatu.

So.. here I am.
Saya tinggal di tempat yang berbeda sekarang. Sudah dua hari ini saya meninggalkan Jatinangor dan Bandung. Kau tahu aku di mana? Bekasi. Haha, lucu bukan? Sampai malam ini saja saya masih tak menyangka justru harus jadi penduduk baru yang katanya planet lain ini.

Sedih bukan main ketika kemarin malam orangtua dan adik saya meninggalkan saya untuk kedua kalinya, Ketidakmampuan untuk lanjut kosan di Bandung menjadi pilihan untuk numpang tinggal tempat saudara, daripada harus pulang ke rumah lalu mati gaya. Kau pasti tahu kan bagaimana rasanya belum mendapatkan pekerjaan lalu pulang ke rumah, bukannya merasa aman namun was-was setiap kau bernafas. Tekanan justru bukan datang dari keluarga, tetapi orang lain yang sok tahu mampu mempengaruhi keluarga untuk tidak sabar menanti buah dari perjuanganmu. Tidak. Saya memilih untuk tidak pulang dulu. Biarkan saya keras kepala dulu mengikuti keinginan hati, jika takdir berkata lain, saya siap pulang dengan gegap gempita.

Hari minggu lalu saya masih ingat sekali, bangun di pagi hari untuk datang ke Gereja Katedral Bandung bersama adik. Damai dan siap sekali hati saya waktu itu, beban yang ada di pundak serasa mau ditinggalkan di sana. Saya izin pada yang punya rumah dan meminta, kelak ada kesempatan seperti dulu saya pernah pamit mengeluh dan saya kembali lagi ke sana dengan rasa syukur karena bisa kembali lagi. Saya sebut itu hari Minggu yang baik. Seminggu berlalu, hari minggu ini saya sudah di kota yang berbeda. Saya di Bekasi. Tinggal bersama keluarga om dan tante saya (adik perempuan Bapak nomor dua) beserta ketiga anaknya. Saya ingat watak orang rumah ini, tipikal watak orang Ibukota namun kental hentakan Sumateranya. Tentu saja, tanda seru semua.

Seperti pagi ini, jam 5 pagi saya sudah bangun (suatu perubahan baik yang terpaksa harus dibiasakan). Persiapan ke Gereja sudah diwarnai dengan hentakan sana sini, lalu akhirnya berangkatlah kami ke Gereja. Jalan di Bekasi? Tentu saja macet. Semua dikomentari oleh om dan tante saya, becak yang menyalip di kiri, gojek yang sliweran, angkot yang main berhenti saja, pak ogah yang bukan mengatur jalan supaya diberi receh malah justru bikin jalan makin ruwet, polisi yang tiba-tiba jaga di persimpangan yang biasanya tidak dijaga, sampai ibu yang memakai dress kakinya buluan tidak ditutupi pun dikomentari oleh tante saya yang sepertinya memang suka sekali mengkritik orang lain. Saya awali hari Minggu absurd ini dengan gelak tawa, baru dua hari saya di sini sudah lumayan mengganggu rasa. Saya mengambil kesimpulan, lalu lintas di Bekasi lebih buruk dari Bandar Lampung. Bandung masih lebih baik.

Pemandangan di luar kamar menjadi pertanda, manusia-manusia ini yang akan saya hadapi setiap harinya. Waktu kedamaian saya akan terhitung hanya dari jam 6 pagi-7 malam di hari Senin-Jumat. Sisanya, diam akan semudah bicara. Harus terlatih mental dan telinga untuk berpikir bahwa sikap mereka yang seperti itu adalah kebiasaan bukan karena ada saya di sini. Saya harus jadi bagian dari mereka. Harus.

Ahh.. masih terasa sekali bagaimana setiap saya lihat media sosial teman-teman yang masih di Bandung dan Jatinangor sibuk berencana untuk bertemu, masih ke kampus, atau sekedar makan bersama. Saya jadi paham dulu ada salah satu teman yang mendadak hilang, menghapus semua accountnya, memblock semua teman terdekatnya, dan menarik diri juga pindah dari Jatinangor untuk pulang ke Bekasi, rumahnya. Saya paham rasanya, apa yang Ia lakukan seperti sinyal untuk tidak merindu lagi pada Jatinangor maupun Bandung. Mungkin yang Ia maksud supaya bisa fokus mencari kerja, atau ada rasa malu untuk aktif lagi sebelum benar-benar mendapatkan pekerjaan yang tetap. Pekerjaan menjadi suatu jaminan untuk berani unjuk gigi lagi. Dia hebat, kini sudah bekerja tetap aktif lagi di media sosial.

Hahahha.. mungkin saya di fase itu sekarang, tapi belum semainstream itu benar-benar pergi. Belum ada niatan, karena saya pun senang melihat perkembangan hidup teman-teman. Saya masih mau jadi tempat cerita yang baik, toh belum sibuk juga. Jadi silent reader aja ahh.. melatih diri untuk bicara seperlunya saja.

Masih awal, mungkin cuma belum biasa saja.
Setidaknya saya berhasil menahan rindu dan tidak sesedih seperti sebelum berada di sini. Hahaha lagipula, Tuhan pasti jaga yang saya rindukan.
Sudah mau jam 11 malam..




Bekasi,
7.8.2016





You Might Also Like

0 komentar

Follow by Email