#PrayforHumanity

6:25 PM

Mari ibaratkan bumi adalah sebuah rumah, kau dan seluruh anggota keluargamu ada di dalamnya. Ibu dan ayahmu bertengkar hebat karna persoalan runyam ekonomi, hasutan orang di luar, dukungan moral yang menipis, sehingga prioritas mulai berubah bukan demi keluarga lagi.

Di sisi lain saudara laki-lakimu bertengkar dengan saudarimu yang lain. Entah karena kasih sayang yang timpang, atau perebutan kepemilikan terhadap sesuatu. Kau? Diam di tengah menyaksikan pertengkaran itu setiap harinya dan menikmati hari dengan kebingungan, keputusasaan, ketakutan, bahkan acap kali acuh. Padahal, kau menyayangi semuanya, inginmu besar untuk menjadi keluarga yang damai dan harmonis.

Sehebat apapun peperangan di rumah itu, pilihanmu tetap hanya dua.
  1. Pertama, duduk diam menyaksikan keributan itu setiap harinya sehingga terkesan seperti rutinitas. Akibat dari yang pertama adalah: stress menumpuk sehingga kau gila sendiri hingga perilakumu menyimpang, atau kau memilih acuh selamanya dan menikmati hampa. Jika salah satu atau dua dari mereka mengalami musibah dan pergi meninggalkan dunia ini, habislah kau dirundung duka dan air mata sepanjang hidupmu.
  2. Kedua, kau dengan segala kebingungan memulai langkah untuk melakukan perubahan. Sekecil apapun langkahmu kau masih sama, berjuang demi keluargamu yang besar harapanmu untuk kembali.
Caranya? Banyak! Mungkin bisa dengan menunjukkan prestasi, minta bantuan orang lain untuk mengembalikan suasana, menjadi pendengar dan memberikan solusi sesuai peranmu sebagai anak dan saudara kandung, dan masih banyak lagi. Lantas, jika setelah harmonis satu atau dua dari mereka pergi meninggalkan dunia apa kau akan sedih? Sedih. Namun jenis tangis yang berbeda, kau bangga karena berusaha. Cintamu kepada mereka semua telah mengalahkan egomu untuk berkalkulasi menghitung pengorbanan dan kebencianmu atas sikap mereka.

Membandingkan bukanlah solusi. Kau tahu itu masalah, maka bukan menghitung dan membandingkan solusinya. Kau pintar, bahkan lebih dari itu. Mari lebih senang bertindak daripada mengkritik, langkah kecil yang kau lakukan bisa jadi menyelamatkan banyak nyawa. Mungkin terkesan mustahil, tapi ingat membantu menyelamatkan nyawa bukan melulu soal turun tangan perang dan senjata. Kalau aku bicara soal cinta mungkin terlalu luas untuk kau pahami bentuknya. Ada banyak cara yang bisa kau tempuh. Bukan menggurui, hanya saja cinta kepada sesama memang mendasari.

Saling menghormati, menghargai, memberi, berusaha menjaga dan menginspirasi akan melahirkan banyak senyuman di rumah ini. Merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki pun membuatnya lebih. Maka rumah ini akan menang atas kejahatan politik, pelanggaran HAM, ketamakan, dan begitu banyak tabiat kejahatan di dalamnya. Kita yang menang!
Bumi ini berbeda dari yang lain, beragam maka aku suka. Jangan kau seragamkan, tapi sangat boleh untuk disatukan. Ayo berdiri bersama-sama membangun perdamaian yang bukan hanya untuk aku dan kamu saja, tapi untuk bumi dan kita semua penghuninya.

You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one. I hope someday you'll join us. And the world will live as one.” ― John Lennon

Teruntuk;
para orangtua, saudara/i, para guru, dosen, sahabat, para mahasiswa/i,
presiden, pejabat, public figure, rakyat; aku, kamu, dan kita semua. 

Orang malam yang membicarakan terang 
Jatinangor,
15.11.2015
Hasil gambar untuk pray for the world

P.S : Tulisan ini bukan menggurui tapi mengajak untuk berusaha bersama, penulis tidak terkecuali.

Stop labelling and start living!

"Make a little space, make a better place" 

You Might Also Like

0 komentar

Follow by Email