But, You’re Not A Constant Star

Halo Senja,
Aku percaya hidup dan cinta adalah sahabat yang selalu beriringan. Cinta akan selalu berputar di kehidupan, bergenggam mesra, dan merencanakan rahasia yang indah untuk siapa saja yang ingin mereka hampiri. Jangan menyalahkan mereka, itu adalah sebuah proses dan karunia yang harus kita terima dengan senang hati.

Mereka bisa membawamu terbang tinggi dan hanya mengenal kata 'bahagia' di setiap nafasmu, namun jika mereka menghadapi hambatan dan kamu salah langkah, penyesalan lah yang akan berbicara. Ikhlas kembali lagi ke awal bahwa cinta mengajarkan kita tulus dalam mencintai tanpa pamrih, pada dasarnya yang salah itu bukan cintanya tetapi manusia yang menjalaninya kurang bisa mengendalikan hambatan yang ada. Sialnya, aku penganut kepercayaan itu. Cinta tidak pernah salah.


       Hari ini pandanganku berubah, tak kusalahkan cinta pun dirimu yang pernah terlibat. Hanya saja ini sudah sangat keterlaluan, mau meledak rasanya. Kini, semua memuncak. Izinkan aku menumpahkan semua rasa yang justru perlahan-lahan jadi asa. Kamu harus tahu keadaanku sadar saat menulis ini, tapi kubiarkan kamu bebas berasumsi. Aku lelah.

       Teruntuk orang-orang yang merasa ada di tulisan ini, aku harap bisa memaklumi sikapku. Kusamarkan nama dan identitas lain, namun jangan salahkan aku kalau begitu membacanya kamu langsung merasa. Tidak ada tujuan untuk mencari perhatian atau memintamu untuk mengerti apalagi kembali. Aku hanya mau bercerita, mungkin saja ceritaku menghantar kamu ke tidur yang berkualitas. Jangan terbebani oleh kata-kataku, aku bukanlah siapa-siapa.


   Semenjak kedua orang tuaku jatuh sakit dan aku pun hampir mati akal untuk menghadapi situasi itu, aku seperti manusia yang haus akan perhatian. Aku rindu diperhatikan, rindu dipeluk, ingin rasanya mengeluarkan keluhan lebih dari yang bisa kamu bayangkan, berbagi penat, butuh hiburan, dorongan, atau setidaknya kata-kata yang bisa mengalihkan keahlianku menghitung cobaan yang akhir-akhir ini sulit aku hadapi. Di saat banyak anak rantauan yang jauh dari rumah, namun tetap bisa bahagia karena harta, di sini aku merasa seperti kayu lapuk yang tinggal menunggu untuk dibakar atau hancur dengan sendirinya dimakan waktu. Kepalaku mau pecah, ingin rasanya bercerita kepadamu.
Namun, balasanmu mahal. Layaknya emas.
Pernahkah kamu memohon doa agar kamu dibuang sejauh-jauhnya ke pulau antah berantah supaya tidak perlu melihat tawa riang anak-anak orang berharta? Pernahkah terpikir olehmu hal-hal yang membuatmu tak pantas hidup karena lupa bagaimana caranya bersyukur?
Aku sakit. Permasalahan datang bertubi-tubi. Dan kamu di sana pasti sedang bersenang-senang.
Aku sampai di bagian bahwa aku lelah meminta tolong. Merasa sia-sia mengandalkan orang lain. Banyak teman yang tidak benar-benar paham kesulitanku saat itu. Motivasi kata-kata rasanya seperti hembusan angin yang hanya berlaku hari itu saja. Kata "sabar" rasanya sudah ratusan kali orang ucapkan. Sampai datang saat di mana aku merasa sendiri lebih baik. Aku percaya setiap orang punya kesibukan dan prioritasnya masing-masing dan aku tidak ada di dalamnya. Termasuk sahabat terdekat yang menurutku bisa saja hadir tanpa aku minta. Entahlah mungkin mereka semua sibuk.

Pelampiasanku akhirnya mengarah ke mencari seseorang yang bisa aku andalkan tanpa harus tahu sebagaimana aku luar dalam. Seseorang kuhayati bayangannya dan mustahil kumiliki keutuhannya. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan seperti ini saja, jika aku terlalu berani melangkah habislah hati oleh cinta dan penyesalan. Lucunya aku mengalami hal seperti ini untuk beberapa kalinya, entah jatuh di jurang yang sama atau jatuh dengan gaya yang berbeda. Mungkin aku terlalu bodoh menghadapi cinta, cuma kamu yang bisa ajarkan bagaimana ketulusan benar-benar nyata untuk didapatkan. Aku sekarang? Sulit mengerti rasa.
Senja, kamu boleh anggap aku gadis bodoh yang tidak bijak menghadapi keluhanku ini. Terserah, aku sudah bilang bebaskan asumsimu. Aku tak butuh komentar, aku lelah.
Demi mencari orang baru yang benar-benar belum mengenalku, aplikasi konyol lah yang bisa membantu. Dari sekian banyak yang datang seperti serial hiburan dan pergi tak ada kabar akhirnya aku menemukan satu orang yang kurasa pantas untuk diajak saling tahu atau lebih tepatnya paling lama berkomunikasi di hari-hariku. Jangan ketawa dulu, senja. Ini belum sampai pada pokok permasalahannya.
Laki-laki ini sudah lama kukenal, tepatnya hampir satu tahun. Setiap hari entah kekuatan apa yang membuat kami saling mengisi, saling mengandalkan, dan menghibur. Dia memiliki banyak waktu untuk meladeni perempuan extrovert seperti aku ini. Melakukan banyak hal sederhana namun selalu ada. Sebatas itu, untunglah senja aku tak sampai jatuh hati entah dia bagaimana. Aku pun tidak pernah punya niat untuk mencari tahu. Agama yang berbeda jadi syarat untukku menjaga perasaan. Aku tahu cinta tidaklah bersyarat, namun kubentengi diriku dengan prinsip itu. Sering kali dia melakukan hal manis dan mungkin untuk perempuan lain sudah cukup meyakinkan bahwa dia sayang kepadaku. Namun, tetap saja aku ingat janjiku pada diri sendiri. Sudah kubilang, aku tidak cinta atau mungkin belum mau jatuh.
Lalu datang hari di mana dia mulai menunjukkan gelagat anehnya, meresponku sekenanya. Awalnya kupikir dia punya masalah pribadi yang enggan untuk dibagi, tentu saja kuurungkan niat untuk banyak bertanya. Mungkin jalan yang bisa kutempuh adalah menghiburnya dengan mengajak bertemu, tapi terasa saat itu atmosfer yang berbeda. Dia seperti sedang menyimpan sesuatu.

Sampailah pada malam itu dia mengajakku untuk berbicara serius. Dia mengajakku keluar tengah malam mencari tempat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Aneh? Jelas. Aku pun bingung. Kulihat wajah paniknya, terlihat dia sangat-sangat berhati-hati untuk memulai mengeluarkan kata pertama dari mulutnya. Aku? Masih dengan polosnya mengira dia ingin cerita soal masalahnya. Lalu ia mulai dengan menegaskan bahwa dia ingin tahu kelanjutan hubungan antara aku dan dia seperti apa, dia menyinggung soal perbedaan yang membuatnya enggan untuk memberi kepastian menjadikanku kekasihnya. Aku tidak habis pikir dia berani melakukan hal itu, selama ini aku tak pernah merasa sedang dalam fase didekati atau menargetkan dan mengejar suatu hubungan yang pasti dari dia. Kudengarkan dia sampai selesai berbicara. Keringat dinginnya keluar bercucuran kemana-mana, tak tega rasanya melihat pemandangan seperti itu. Cepat-cepat aku merespon bahwa aku menganggapnya seperti abang sendiri (alasan klasik yang menurutku cepat mudah diterima), kusampaikan juga bahwa aku tidak pernah mencari apapun dari dia atau menargetkan dia harus menjadi pacarku. Suasana tegang mulai melunak, perlahan-lahan dia mulai tenang dan bisa tertawa lega.

Aku tahu itu sangat tidak mungkin, lagipula rasa memang belum lahir. Sempat ada ketakutan aku akan jatuh hati, namun selalu kuingat prinsip konyolku itu. Sekali lagi kuulang, padahal kalaupun cinta harusnya tidak bersyarat. Dengan bodohnya kami menunjukkan sikap salah tingkah bingung harus berkata apa dan bersikap bagaimana lagi, kulihat dia kembali panik dan dalam hati pun rasanya ingin sekali cepat menyudahi pembicaraan itu. Alih-alih aku berpikir "mungkin ini akan sama seperti yang sudah-sudah, sehabis ini pergi begitu saja". Tak berapa lama aku mulai penasaran bertanya apakah dia sedang dekat dengan seseorang karna sepertinya pembicaraan ini seperti didesak harus tengah malam seperti itu.
Dia menjawab "Aku sudah jadian dengan seseorang, barusan tadi malam ini".
Sontak badanku membeku mendengar pernyataan itu, rahangku kaku bingung harus bilang apa. Ada amarah yang datang dalam hitungan detik menguasai tubuhku. Bukan cemburu, senja. Kamu harus tahu bedanya. Aku marah, merasa ada yang salah dari apa yang dikatakannya malam itu. Berkali-kali terucap kenapa tidak cerita saja dari awal, maksudku dengan dia bercerita dari awal bahwa dia mulai ada niat untuk mendekati perempuan itu, maka bisa menjadi patokanku untuk tidak mengandalkan dia lagi, mengurangi intensitas berkomunikasi, atau hanya dalam keadaan penting saja mencari dia. Teringat kembali saat dia berkali-kali mengatakan nyaman bersamaku sehingga banyak melakukan hal manis untukku. Aku terima itu. Aku hargai dan sangat berterimakasih karna sempat merasa spesial saja saat itu sebagai perempuan, sudah lama rasanya tidak diangkat. Hal itu terjadi selama dua minggu belakangan ini, sedangkan aku yakin di saat yang sama dia sedang mendekati perempuan itu. 

Oh senja, susah kuungkapkan bagaimana otakku berpacu cepat untuk menolak pernyataannya itu. Kenapa tidak sebelum mereka jadi sepasang kekasih? Kenapa mudah sekali menyanjungku berkali-kali, bahkan sampai memberikan rasa aman dan nyaman untukku? Kenapa? Kenapa? Kamu kenal aku kan, senja? Aku sangat benci perempuan tidak dihargai utuh. Aku memang tidak kenal perempuan itu tapi bagaimana kalau dia tahu bahwa ketika lelaki ini mendekatinya dan mencoba memberikan hatinya, dia sedang intensif sekali bersamaku walaupun tidak ada rasa sama sekali. Bagaimana bisa perempuan merasa spesial kalau tahu bahwa dirinya bukanlah satu-satunya yang berperan di hidup seorang lelaki yang mulai Ia sayangi?
Dibalik banyaknya pertanyaan di kepalaku, aku masih bisa tertawa. Entah dia jeli atau tidak, itu adalah gelagat tawa paling pahit dan paling munafik yang pernah kuberikan. Dia? Berkali-kali ucapkan maaf. Pengang rasanya, belum bisa kucerna semuanya. Belum lagi hahh seperti kamu senja, mengatakan jangan ada yang berubah tapi ya tetap saja perpisahan melahirkan perubahan atau percakapan yang berkurang maknanya. Aku menyerah, kusudahi dan kuajak dia untuk pulang. Aku tahu ini arahnya kemana. Hilang, sudah pasti.
Dia mengantarku pulang, di jalan penghuni motor itu sama-sama hening. Dingin sekali Jatinangor saat itu. Bahkan, duduk pun kujaga jarak. Aku manusia yang tak mau disentuh saat itu. Besar keinginanku untuk mendesaknya dengan beberapa pertanyaan, tapi kurasa percuma. Sesampainya di kosan, kamu tahu apa senja? Dia menengok ke belakang, aku menangis di atas motor, lalu mencoba turun dan menghapusnya. Dia takut melihatku menangis, diubahnya posisi duduk menghadapku sambil menghela nafas yang mengartikan dia tidak bisa berkata dan lagi-lagi hanya mengucap maaf. Aku lelah menatap matanya saat itu, seperti tidak paham maksudku apa dia hanya mematung melihatku menangis. Cepat-cepat aku meminta maklum atas sikapku itu, mungkin jika kamu lihat atau ada orang lain melihat dengan cepat menghakimi aku sangat bodoh karna sudah menangis. 

Senja, kamu harus tahu aku begitu bukan karena takut kehilangannya tetapi seperti sendiri rasanya memikirkan nasib yang diposisikan menghadapi kenyataan seperti itu. Entah kesialan jenis apa yang bersahabat mengujiku, tidak ada siapa-siapa. Aku seperti diposisikan di ruang hampa yang hanya ada aku dan waktu. Dia mengajariku merebahkan cemas sekaligus bangkit dan panik, bagaimana tidak, ini terlalu tiba-tiba. Layaknya tentara memberikan komando untuk segera aku berdiri lagi walau sudah diberikan siksaan.

Kuminta dia untuk memelukku dan dilakukannya. Lalu aku berlalu pamit pergi, dia mengusap kepala mengucapkan "baik-baik ya". Tak kuperdulikan lagi dia pergi, dalam hatiku "Sudah, terserah, pergilah seperti yang lain juga".
Hari selanjutnya dia seperti berusaha untuk mau mengembalikan suasana karna perasaan bersalah, masih kutanggapi sekenanya. Aku merasa belum sembuh. Lagipula kepalaku sakit sekali hari ini.
Senja, kenapa lelaki seperti itu? Menyentuh dua hati yang berbeda dan memutuskan untuk tidak tepat dalam bersikap? Ujung-ujungnya mengorbankan salah satu. Atau Ia menyalahkan keadaan? Harusnya dia bisa bertimbang memposisikan aku seperti apa tanpa ragu memikirkan aku punya rasa atau tidak. Dia tidak bisa mengatakan hubungan ini tidak ada ujungnya, itu seperti menegaskan tidak mau diakhiri dan tidak mau juga dilanjutkan. Kalau dia berniat aku adalah temannya semestinya dia tidak ragu untuk mengatakan hal sebenarnya.

Aku manusia biasa, sempat terlintas mungkin saja dalam waktu bersamaan dia takut kehilangan keduanya. Karena tahu bahwa salah satu tak ada kepastian dia mencari kepastian dengan hati yang lain, tapi dia tetap tidak mau aku hilang. Memang cuma teman, andai dia lebih pintar menghadapinya aku pun pasti baik-baik saja menghadapi kenyataan itu. Toh, memang tidak ada rasa seperti yang Ia duga-duga. Aku bodoh. Kubiarkan dia melakukan hal manis hanya karna aku haus perhatian dari sekitarku. Kesenanganku sesaat, tidak kumaknai dalam tapi tetap kubutuhkan. Aku menyayanginya layaknya menyayangi sesama manusia. Itu saja.


Bukan dia saja yang merasa salah, pun aku di sini tersiksa dengan diriku sendiri yang terlalu pesimis sehingga dia menjadi pilihanku untuk tempat mengadu padahal aku dan dia tidak sama-sama mengenal layaknya kamu yang tahu persis apa kelemahan dan kebodohanku. Aku sangat-sangat merasa bersalah atas itu. Mungkin tidak seharusnya meletakkan harapan bahwa dia bisa menerima keadaanku, sambil mungkin mengobati rasa sakit atas semua permasalahan yang kuhadapi belakangan ini.


Kuharap dia membacanya saat ini. Dari kerendahan hati paling dalam;

Aku minta maaf, tidak seharusnya kamu terlibat dalam hidupku.

       Jangan salah sangka, aku hanya butuh obat bukan maksud merubah suasana hatimu. Aku tahu, bukan pekerjaanmu selalu ada untukku yang rumit ini. Bukan tugasmu untuk selalu menghibur dan mendengarkan keluhanku. Bukan kamu yang tidak pantas untuk itu, aku yang tidak layak untuk mengharapkannya dari siapapun. Kamu bukan teman jenis itu, kamu memang ada tapi bukan untuk kuharapkan "selalu" ada. Kamu punya kehidupan lain yang dibatasi dengan gerbang tinggi, ada benarnya mungkin kita hanya selalu mampir berkunjung bukan untuk tetap tinggal. Jangan katakan maaf lagi, makin sakit aku mendengarnya. Kumaafkan caramu yang tiba-tiba itu, kumaklumi semuanya. Percayalah, bagiku kamu sudah melakukan hal yang sangat benar.

       Terimakasih sudah datang untuk menenangkan, terimakasih untuk waktunya, dan terimakasih juga karena mau mengenalku dengan segala kekurangan yang kumiliki. Suatu hari nanti, di waktu yang akan datang aku pasti akan selalu ingat kita pernah sama-sama saling menjaga. Harapanku hidupmu harus lebih berkualitas setelah ini, jadilah manusia yang mencintai proses dan menganggap sebuah hasil sebagai bonus. 
Aku benci diriku senja. Ini tidak adil. Aku lebih membutuhkan orang lain daripada orang lain itu membutuhkanku.
Kau tahu apa yang kutakutkan dari pemahaman seperti ini? Aku dan kau tak bisa menemukan jalan yang sama. Jalanku tak lurus bukan seperti langkahmu mulus sepertu bentangan garis terbaik. Aku berbelok-belok sedang kau di sana pergi melesat meninggalkanku. Kau tahu sedang berjalan dimana kita? Jalan setapak. Jalan yang memantau dan menyimpulkan betapa kita hanya sisa-sisa genangan air yang belum juga kering.
Sesungguhnya, Senja, aku hanya sedang tak bisa menemukan yang lain. Aku masih sama seperti kau mengenalku di masa sulitku. Perempuan pemimpi ini masih hilang arah tanpa tahu kemana arah tujuan. Tapi ada kau di sana. Kau menarikku seperti layang-layang. Tanpa cemas, tanpa bertimbang, tanpa mengerti, tanpa peduli benangku akan putus di udara. Kau tak berhenti menarik ulur sekalipun kutahu kau belum pernah memainkannya.
Bisikanku percuma, tak pernah sampai kepadamu. Ingin rasanya memilih untuk berteriak. Aku harap suara lantang yang kuarahkan ke langit malam bisa kau dengar menggema ke tempatmu. Aku ingin jiwaku terbang ke sana.
Sekarang kau bayangkan suatu saat nanti aku marah kepadamu. Mungkin perasaanku tak lagi bernyawa. Kubiarkan mati. Lenyap. Lantas, akan jadi apa dunia tanpa aku dan kau yang pernah mencoba saling mengusahakan?
Tapi cerita-ceritaku untukmu tak akan pernah habis. Hingga kini masih kuingat cerita kita. Kitalah dua orang asing yang tak mengerti satu sama lain.
Kelak hal seperti ini akan membuatku sinting. Seperti sekarang ini. Seperti tulisan yang kau baca ini. Kau pikir aku tak sedang gila saat menuliskan ini? Ah benar senja, hilang akal sehatku.

Jatinangor,
22.10.2015

Tas?

Hampir 4 bulan hidup di Jatinangor, dengan segala kehidupannya yang keras yap akhirnya sebagai SAMSONWATI gue tasye, cewe kece paling oke ini bisa bertahan. Setiap hari semangat itu ada, bisa tumbuh, bisa aja pergi. Kata orang sih semua itu tergantung pada diri kita sendiri, dan celakanya gue setuju. Sometimes, it’s too hard deserve yourself to be a good positive thinker for everyday in your whole life. Susah, susah abis. Ada saat di mana kita buntu dan merasa lebih baik untuk jauh berpikir ke belakang, memikirkan semua keinginan yang belum bisa tercapai karna keadaan sekarang. Well, hal terbaik yang bisa dengan bijak dilakukan cuma BERSABAR dan BERUSAHA. Capek, bosen, basi dengernya karna kadang susah mengontrol rasa sabar. Kadang iri melihat orang lain yang berhasil mencapainya duluan, omongan orang yang kadang tanpa mereka sadari juga ikutan nusuk dan pupusin semua semangat gue. Tapi gue mau ikhlas, mau sabar, and trying to BELIEVE.

God never let me alone in my darkness, He knows my future even before I was plan all my dreams.
Tulisan waktu menjadi mahasiswa baru yang merasa (lagi) mimpinya tertunda entah karena kepolosan, bakti kepada orangtua, atau ambisi yang besar namun masi rabun arah. Satu hal yang pasti, aku berbisik pada diriku sendiri:
"HA! Malu jenis apalagi ini sudah tahun keempat masih ada keluhan? Bangun tas.."

Selesaikan secara utuh. Kamu? Tak terkecuali.

Jatinangor, 10.5.2015 

Sebuah Elegi di Balik Angin Malam

Entah angin malam jenis apa yang menghentakku dini hari seperti sekarang ini.
Jantungku tak bersahabat, darah serasa berkumpul semua di otak. Rasanya seperti mau berlari seperti dulu pergi ke tempatmu, tanpa perlu ragu akan gelap dan dinginnya angin malam.
Pipiku mulai hangat.
Sudah dua tahun yang lalu, termasuk satu tahun terlewat tanpa saling mengucap selamat ulangtahun. Mungkin kamu lupa. Aku? Kutahan sebisaku, dalam doa malam itu saja kusampaikan.Tuhan lah jadi saksi malam itu, karena aku tak mampu menghampirimu dengan sebuah ucapan selamat ulangtahun tanpa rasa harap.
Apa kabar?
Apakah banyak yang kamu lakukan selama ini untuk terus hidup menjadi sebagaimana kamu?

Hidupku berat walau tak seberat orang di jalanan sana.
Menghadapi orang yang sakit dan diri sendiri yang sakit, bahkan aku pikir sakitku bukan fisik saja tapi jiwa juga ikut-ikutan.
Berkutat dengan ambisi yang tak sejalan sehingga motivasiku nyaris hilang arah. Setahun yang lewat diisi dengan nafsu sampah yang aku pikir bisa membuatku lupa, kamu pernah pergi menyerah.
Aku tidak mau jadi seperti perempuan kebanyakan di luar sana, sibuk mengambil tissuenya. Menangisi semua yang pernah Ia upayakan dan semua janji yang tak menjadi hadiah untuk kesetiaannya pada cinta yang dipikirnya sejati tapi justru malah sebaliknya. Menyaksikan film romantis dan akhirnya menangis lagi, atau berani berkata menyesal sudah pernah sangat cinta dan berharap.
Jangan sampai, aku mengagumi senjaku.

Sepertinya aku mengarah kesana, hanya saja ini sedang kulawan sekeras mungkin. Aku menganggapmu itu pelajaran, pengalaman, dan hadiah yang memang ada masanya. Kuhindari rasa menyesal, kuhindari rasa perasaan tak dianggap, kuhindari kepala yang terus mengingat kata sayang dan janji yang mendekapku erat dulu, kuhindari rasa ingin dipikirkan, dan kuhindari perasaan menduga-duga aku masih cinta atau hanya perasaan kawatir saja.

Aku terlalu perempuan saat itu, senja. Aku terlalu takut cintaku tak jadi, seperti perempuan yang memburu untuk diberi pertanggungjawaban padahal aku tahu cinta tak mungkin berjalan mulus jika nafsu untuk memiliki karna ego atau kesenangan semu.
Aku salah, aku terlalu perempuan. Aku terlalu perempuan.

Selalu, kuhindari rasa untuk diutamakan sejak saat itu. Aku belajar walaupun niatku besar, tak selalu posisi utama yang bisa kudapatkan. Aku pun tak pernah mengucap doa supaya kamu kembali.

Cintakah ini, senja?
Sebanyak ini aku mengurai rasa hampaku, seperti ini sedih yang selalu aku tahan supaya tak beranak-pinak hingga berhari-hari.

Cintakah ini, senja?
Bahkan menyebut namamu pun aku ragu.
Sulit untukku mengucap namamu tanpa rasa harap.
Melakukan dosa pun setelah itu kamu melintas, lalu matilah aku disibukkan dengan perasaan bersalah dan berpikir bahwa bukan tipe wanita seperti ini yang kamu inginkan, lalu dengan percaya diri berkata pada diri sendiri:
"nanti aku tak akan bisa hidup benar jika seperti ini, bukan seperti yang pernah kamu tunjukkan".

Rasakan, kata-kataku mulai pesimis.

Cintakah ini, senja?
Cuma kamu yang paling tahu soal cinta.
Lucu, dekapanmu selalu terasa. Tubuh besarmu itu menghangatkan.
Sering sekali aku berkhayal kita bisa duduk berdua, tanpa mengingat apa yang terjadi dulu. Hanya kita dan dua cangkit teh hangat, lalu aku mulai bicara hidupku selama tidak di dekatmu seolah kamu bukanlah kamu, tapi teman cerita yang baru. Cerita banyak hal tentang bagaimana aku menjauh, bagaimana aku berpura-pura, menangis, sakit, dan melakukan dosa yang kalau kamu dengar bisa membuatmu mungkin selintas menghakimiku dengan tanpa memperhitungkan rasa sayangku untukmu.
Ahh senja, sedari tadi celotehan ini hanya berujung di satu muara. Kiranya angin malam membawa kata-kataku, terserah mau lenyap atau berujung padamu asal jangan kembali karena aku akan selalu pergi.
Cuma bisa begini, senja. Cuma bisa lirih.




Senja, aku merindukanmu. Sangat rindu.

ALB -1 Juli 2015; 01.32-

Surat untuk Ahh.. Kalian Berdua.

Sebelum ada yang baca ini, berikan aku ruang kosong untuk masuk ke dalam hatimu, Kalian berdua. Mungkin cuma 5-10 menit saja, setelah itu urusan kalian.

Semoga Tuhan berbelas kasihan.

Dingin. Dingin sekali di sini.
Angin malam tak bersahabat
Memutar otakku sinkron ke hati lalu ke liang yang kuhindari
Pipiku mulai hangat, basah, dan deras.

Terbayang dulu, dulu sekali aku lincah bukan main
Menghayal sana sini belum banyak merasa
Terbuai keindahan diriku di masa depan
Ahh.. aku pasti jadi wanita rupawan
Hasratku jadi lebih besar dari badanku sendiri

Hari itu. Kalian tolak.
Inginku diabaikan
Hasratku dipupuskan
Aku cuma punya Dia saja
tapi Dia tak muncul langsung, peringatkan kalian
Dia cuma perhatikanku saja, yang asik menikmati air mata
Bersahabat dengan rasa sakit
Berdampingan dengan rasa tertipu oleh diri sendiri

Satu tahun, dua tahun, tiga tahun
Kupakai topengku, kutapak jalan asing berbelok
Hakikat hidup selamat, kalian bilang
Entah kenapa aku di sana
Entah kenapa aku terbawa
Tenang, pasti aku pun terlibat. Aku salah.
Jangan kau bentak aku, aku tahu!
Sudah sejauh ini aku menipu diriku sendiri
Terlalu lama aku membisu

Suatu titik menghentakku
Bagaikan suara tentara yang memaksaku untuk berdiri,
walaupun aku tak ingin berdiri
Sinar silaunya menyinari dan mengusik

Di sini..
Aku berhenti di sini, hanya jalan setapak
Jalan ini tak ada jejak kaki di depanku
Sebelah kananku ada jejak maju dan jejak kembali runyam sekali
Sebelah kiriku ada jejak maju sampai jauh tanpa ada jejak kembali
Sebrang sana lagi ada jejak kaki maju, namun ada jejakan besar
lebih besar dari telapak kaki, mungkin pemiliknya sempat jatuh
Kulihat milikku, bersih sampai menuju sinar itu

Kukira aku main aman
Banyak pertimbangan tapi tak juga kumulai langkah kecilku
Semua orang mulai mendahuluiku
Semua... tak terkecuali bayanganku yang tak sabar ingin melangkah
Padahal seharusnya Ia setia di belakangku

Apalah artinya hidup, bila aku banyak takut
Apalah artinya hidup, bila takutku itu kalian berdua